Rabu, 08 April 2026

PERANGKAT AJAR KELAS XI PDF

https://drive.google.com/drive/folders/19bWnWPqyUiJ2zhB9ri2wDcl6Ub12bRhq?usp=drive_link 

MODUL AJAR / RPM


A. IDENTIFIKASI

Sekolah

SMKN 1 LABUAN BAJO

Nama Guru

STEFANUS SATU, S. Pd

Mata Pelajaran

Kreativitas, Inovasi dan Kewirausahaan (KIK)

Kelas / Semester

XI  / 1

Alokasi Waktu

10 JP (2 Pertemuan x 5 JP @45 Menit)

Analisis Peserta Didik:

Peserta didik kelas 11 SMK berada pada fase remaja akhir yang memiliki energi eksploratif tinggi namun seringkali terhambat oleh rasa takut akan kegagalan (fixed mindset). Di SMKN 1 Labuan Bajo, siswa terpapar pada industri pariwisata yang dinamis, menuntut kemampuan adaptasi dan kreativitas tinggi. Secara kognitif, mereka siap melakukan penalaran kritis namun memerlukan stimulasi konkret untuk membangun kemandirian dalam mengambil keputusan kewirausahaan.

Analisis Materi:

Materi mencakup dikotomi antara Growth Mindset dan Fixed Mindset, teknik berpikir kreatif (SCAMPER), serta identifikasi karakter wirausaha. Fokus utama bukan sekadar teori, melainkan internalisasi nilai-nilai kreativitas sebagai solusi atas hambatan mental (mental block) dalam berwirausaha.

Pilihan Dimensi Profil Lulusan:

Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Kewargaan

Penalaran Kritis

Kreativitas

Kolaborasi

Kemandirian

Kesehatan

Komunikasi

B. DESAIN PEMBELAJARAN

Capaian Pembelajaran

1. Kreativitas Menerapkan konsep kreativitas, pola pikir berkembang (growth mindset), karakter wirausaha, eksplorasi ide, penciptaan gagasan baru, dan mengaplikasikan kreativitas dalam praktik kewirausahaan.

Lintas Disiplin Ilmu

Bahasa Indonesia (Literasi kritis), Informatika (Pemanfatan platform digital), dan Bimbingan Konseling (Psikologi perkembangan diri).

Tujuan Pembelajaran

Menganalisis konsep kreativitas dan menerapkan pola pikir berkembang (growth mindset) dalam konteks kewirausahaan.

Topik Pembelajaran

Kreativitas dan Growth Mindset Wirausaha: Teori, Transformasi Mental, dan Refleksi Diri

Praktik Pedagogis (Model)

Deep Learning (6C: Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Character, Citizenship) dengan model Inquiry-Based Learning dan Refleksi Metakognitif.

Kemitraan Pembelajaran

Observasi virtual atau wawancara dengan pelaku UMKM kreatif di Labuan Bajo (misal: pengusaha oleh-oleh atau jasa wisata).

Lingkungan Pembelajaran

Ruang kelas yang diatur secara kolaboratif (Round Table), area terbuka sekolah untuk aktivitas eksplorasi ide.

Pemanfaatan Digital

Padlet (Curating ideas), Mentimeter (Live polling), Canva (Mindset visualization), dan LMS/Google Classroom.

C. PENGALAMAN BELAJAR

Tahapan

Aktivitas Konkret (Deep Learning)

AWAL

Pembelajaran dimulai dengan 'Emotional Hook' melalui penayangan video singkat transformasi tokoh wirausaha sukses yang berangkat dari kegagalan total. Guru memfasilitasi sesi 'Mindset Check-in' di mana siswa diminta menuliskan satu kata yang menggambarkan perasaan mereka saat mendengar kata 'Kegagalan' pada aplikasi Mentimeter. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan sistem limbik (emosi) siswa dan membangun koneksi bermakna antara pengalaman pribadi mereka dengan materi yang akan dipelajari (Neuroscience: Emotion and Memory). Setelah itu, guru melakukan apersepsi melalui permainan 'The Unusual Use of an Object'. Siswa secara mandiri (Kemandirian) diberikan waktu 3 menit untuk memikirkan sebanyak mungkin fungsi tidak lazim dari sebuah benda sederhana (misal: jepit rambut atau botol plastik kosong). Aktivitas ini bertujuan untuk 'pemanasan' otak kanan dan menstimulasi jalur neural kreatif siswa sebelum masuk ke materi inti. Guru memberikan penguatan bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif yang dapat dilatih, bukan bakat bawaan yang kaku. Guru kemudian memaparkan tujuan pembelajaran dan menyepakati 'Kontrak Belajar' bersama siswa. Di sini, prinsip Student Agency diterapkan dengan memberikan pilihan (Choice) kepada siswa mengenai bagaimana mereka ingin mendokumentasikan pembelajaran hari ini (apakah melalui catatan visual, podcast pendek, atau peta konsep). Guru menekankan bahwa dimensi Penalaran Kritis, Kreativitas, dan Kemandirian akan menjadi kompas utama selama proses belajar, menciptakan rasa kepemilikan (Ownership) atas tujuan belajar mereka sendiri.

(45 Menit)

INTI: Memahami

Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk melakukan 'Deep Dive Inquiry' terhadap konsep Growth vs Fixed Mindset. Guru menyediakan 'Station Learning' di mana setiap stasiun memiliki sumber belajar yang berbeda: video wawancara, artikel studi kasus bisnis yang bangkrut karena kaku (Fixed Mindset), dan biografi pengusaha yang melakukan pivot (Growth Mindset). Siswa harus melakukan Penalaran Kritis dengan membandingkan pola pikir di balik setiap kasus tersebut. Mereka didorong untuk saling bertanya 'Mengapa' dan 'Bagaimana jika' guna melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Interaksi guru-siswa berfokus pada teknik Scaffolding, di mana guru berkeliling bukan untuk memberikan jawaban, melainkan melontarkan pertanyaan provokatif yang menantang asumsi siswa. Siswa didorong untuk menyuarakan (Voice) pendapat mereka secara bebas tanpa takut salah. Di setiap stasiun, siswa harus mengumpulkan 'puzzle konsep' yang menggambarkan karakteristik kreativitas wirausaha, seperti keberanian mengambil risiko, orisinalitas, dan kegigihan. Penggunaan media digital seperti Padlet digunakan sebagai papan diskusi transparan. Setiap kelompok mengunggah hasil analisis kritis mereka ke Padlet, sehingga kelompok lain dapat memberikan umpan balik (Peer-Feedback) secara langsung. Proses ini membangun literasi digital sekaligus melatih kolaborasi dan komunikasi dalam menganalisis konsep-konsep abstrak menjadi pemahaman yang konkret dan aplikatif dalam konteks kewirausahaan lokal di Labuan Bajo. Sebagai penutup fase memahami, guru memfasilitasi 'Classroom Debates' mini tentang topik: 'Apakah kreativitas bisa diajarkan atau merupakan bakat lahir?'. Aktivitas ini bertujuan menguji pemahaman mendalam mereka tentang konsep Growth Mindset. Siswa harus mempertahankan argumen mereka dengan bukti dari studi kasus yang telah dibaca, yang secara langsung mengasah dimensi Penalaran Kritis mereka secara intensif.

(90 Menit)

INTI: Mengaplikasi

Siswa masuk ke fase 'The Creative Mindset Challenge'. Dalam fase ini, siswa diminta untuk mengidentifikasi satu masalah nyata yang ada di lingkungan sekolah atau sekitar Labuan Bajo (misal: sampah plastik, kurangnya akses informasi wisata bagi difabel, dll). Dengan menggunakan prinsip Kemandirian, setiap siswa atau kelompok kecil harus memilih satu masalah yang paling mereka pedulikan. Mereka kemudian menerapkan konsep kreativitas dan pola pikir berkembang untuk merancang draf solusi kewirausahaan sederhana. Guru memperkenalkan teknik SCAMPER (Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Reverse) sebagai alat bantu berpikir kreatif. Siswa menerapkan teknik ini untuk membedah masalah yang dipilih. Di sini, Kreativitas siswa diuji untuk tidak hanya mencari solusi umum, tetapi solusi yang unik dan memiliki nilai ekonomi. Mereka didorong untuk melakukan 'Rapid Prototyping' ide, baik dalam bentuk gambar, maket dari bahan bekas, atau alur jasa (Service Design). Selama proses ini, guru berperan sebagai mentor/coach. Ketika siswa menemui hambatan (misal: 'Idenya terlalu sulit, Pak'), guru mendorong penggunaan 'The Power of Yet' (Saya belum bisa melakukannya, belum tentu tidak bisa). Siswa diajak untuk melakukan 'Trial and Error' kecil di dalam kelas, mencoba mempresentasikan ide kasar mereka kepada rekan sejawat untuk mendapatkan masukan. Ini adalah aplikasi nyata dari Growth Mindset di mana umpan balik dianggap sebagai bahan bakar untuk perbaikan, bukan kritik pribadi. Siswa memiliki kendali penuh (Ownership) atas proyek mereka. Mereka bebas memilih media presentasi, baik itu berupa poster digital Canva, simulasi drama pendek, atau presentasi 'Pitch Deck' ala startup. Di akhir sesi, setiap kelompok memamerkan 'Peta Transformasi Mindset' mereka yang menunjukkan bagaimana ide mereka berkembang dari konsep awal yang sederhana menjadi ide yang lebih kompleks dan solutif setelah melalui proses diskusi dan revisi.

(135 Menit)

INTI: Merefleksi

Refleksi dilakukan dengan pendekatan 'Metacognitive Journaling'. Siswa diminta untuk merenung secara mendalam tentang perjalanan emosional dan intelektual mereka selama pembelajaran. Mereka menjawab pertanyaan reflektif seperti: 'Asumsi apa yang saya miliki tentang diri saya sebelum kelas ini?', 'Bagaimana perubahan pola pikir ini akan mempengaruhi cara saya menghadapi kegagalan di masa depan?', dan 'Sejauh mana saya telah bertindak mandiri dalam tugas tadi?'. Ini membantu memperkuat jalur saraf terkait pemahaman diri (Self-Awareness). Guru memfasilitasi sesi 'Circle of Trust' di mana beberapa siswa secara sukarela berbagi refleksi mereka. Siswa didorong untuk jujur mengenai ketakutan atau keraguan mereka. Guru memberikan apresiasi atas kejujuran dan kemauan untuk berkembang (Growth Mindset). Refleksi ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir proyek, tetapi lebih pada proses internal perubahan mindset. Siswa juga melakukan evaluasi diri terhadap penguasaan Profil Lulusan (Penalaran Kritis, Kreativitas, Kemandirian) menggunakan radar chart sederhana yang mereka gambar sendiri. Mereka menentukan di titik mana mereka berada dan apa langkah konkret yang akan diambil untuk mencapai level berikutnya. Hal ini menegaskan bahwa belajar adalah perjalanan kontinu yang mereka kendalikan sendiri. Sebagai penutup refleksi, guru mengaitkan pembelajaran hari ini dengan kebutuhan nyata di industri pariwisata Labuan Bajo, di mana perubahan terjadi sangat cepat dan hanya mereka yang memiliki mindset berkembang serta kreativitas tinggi yang dapat bertahan dan memimpin. Siswa meninggalkan kelas dengan 'Mindset Statement' pribadi yang mereka tulis di selembar kertas dan ditempel di dinding kelas sebagai pengingat harian.

(45 Menit)

PENUTUP

Guru memandu sesi kesimpulan kolektif dengan teknik 'The Last Minute Stand'. Siswa secara bergantian berdiri dan menyampaikan satu kalimat kunci yang paling berkesan dari pembelajaran hari ini, menghubungkannya dengan bagaimana mereka akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai calon wirausahawan. Guru merangkum semua poin tersebut menjadi sebuah 'Manifesto Kreativitas Kelas 11' yang akan dipasang di LMS sekolah sebagai referensi bersama. Sebagai rencana tindak lanjut, guru memberikan tantangan 'Growth Mindset in Action' untuk satu minggu ke depan: siswa diminta untuk mencoba satu hal baru yang selama ini mereka takuti atau anggap mereka tidak berbakat di dalamnya (misal: berbicara di depan umum, belajar coding dasar, atau memasak menu baru). Mereka diminta mencatat prosesnya dan membawanya pada pertemuan berikutnya. Pembelajaran diakhiri dengan doa dan apresiasi hangat dari guru atas keberanian siswa untuk keluar dari zona nyaman, menciptakan atmosfer yang menggembirakan dan penuh harapan.

(45 Menit)

D. ASESMEN PEMBELAJARAN

Asesmen Awal (Diagnostic)

Asesmen Proses (Formative)

Asesmen Akhir (Summative)

Tes Diagnostik Non-Kognitif (Kuesioner mindset Dweck) untuk memetakan profil awal mindset siswa (Fixed vs Growth).

Observasi sistematis menggunakan lembar ceklis selama diskusi kelompok (Penalaran Kritis) dan proses pengerjaan proyek (Kemandirian dan Kreativitas). Umpan balik formatif diberikan secara real-time melalui komentar di Padlet.

Portofolio 'Mindset Transformation Project' yang berisi: Analisis kasus, Draf Solusi Kreatif (SCAMPER), dan Jurnal Refleksi Metakognitif.

Teknik Penilaian:

Self-Assessment, Peer-Assessment (360 feedback), dan Rubrik Penilaian Kinerja.

E. RUBRIK PENILAIAN

Indikator

Baru Memulai

Berkembang

Cakap

Mahir

Penalaran Kritis (Analisis Mindset)

Hanya mampu menyebutkan definisi mindset tanpa mampu membedakan karakteristiknya secara jelas.

Mampu membedakan Fixed dan Growth mindset namun belum bisa mengaitkannya dengan kegagalan bisnis.

Mampu menganalisis hubungan antara pola pikir dengan keputusan bisnis dalam studi kasus secara logis.

Mampu melakukan analisis mendalam dan kritis terhadap berbagai kompleksitas pola pikir serta memberikan alternatif solusi yang berdasar pada data/teori.

Kreativitas (Aplikasi SCAMPER)

Menghasilkan ide yang bersifat meniru ide yang sudah ada tanpa ada modifikasi.

Mampu menggunakan 1-2 elemen SCAMPER untuk memodifikasi produk/jasa yang sudah ada.

Mampu menggunakan minimal 4 elemen SCAMPER untuk menghasilkan solusi yang orisinal dan aplikatif.

Menghasilkan gagasan yang sangat orisinal, disruptif, dan memiliki potensi nilai ekonomi tinggi serta keberlanjutan.

Kemandirian (Refleksi & Manajemen Belajar)

Memerlukan instruksi terus-menerus dan belum mampu melakukan refleksi mandiri.

Mampu mengerjakan tugas secara mandiri namun refleksi masih bersifat permukaan (hanya perasaan).

Mampu mengatur strategi belajar sendiri dan melakukan refleksi yang menghubungkan pengalaman dengan tindakan masa depan.

Menunjukkan determinasi tinggi dalam belajar, melakukan evaluasi diri secara jujur, dan memiliki rencana pengembangan diri yang sistematis.

F. PENGAYAAN & REMEDIAL

PENGAYAAN (HOTS):

Siswa yang sudah mahir diberikan tantangan untuk menjadi 'Mindset Coach' bagi adik kelas atau merancang proposal bisnis awal untuk dikompetisikan di tingkat sekolah/kabupaten.

REMEDIAL:

Pendampingan khusus (One-on-one coaching) untuk membantu siswa mengidentifikasi hambatan mental (mental block) mereka dan memberikan tugas kecil yang menjamin 'Quick Wins' untuk membangun kepercayaan diri.

G. LAMPIRAN TAMBAHAN

Bahan Bacaan Siswa:

Buku Paket PKK Kelas XI, Artikel tentang 'Kisah Sukses UMKM Labuan Bajo', Infografis 7 Teknik Berpikir Kreatif.

Bahan Bacaan Guru:

Mindset: The New Psychology of Success oleh Carol S. Dweck, Deep Learning: Engage the World Change the World oleh Michael Fullan.

Media Pembelajaran & Video:

Slide Presentasi, Video YouTube 'The Power of Belief', Template SCAMPER, Aplikasi Mentimeter/Padlet.

Glosarium:

Growth Mindset: Pola pikir berkembang. Fixed Mindset: Pola pikir statis. Pivot: Strategi mengubah arah bisnis tanpa mengubah visi. SCAMPER: Teknik memicu kreativitas.

Daftar Pustaka:

Dweck, C. S. (2006). Mindset. New York: Random House. Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta.

 

Jumat, 03 April 2026

KISI-KISI SOAL

 

SUMATIF HARIAN

Kurikulum Merdeka

SMK Kelas 11 - SMKN 1 Labuan Bajo

Topik: Kegiatan Produksi


KISI-KISI SOAL

No

Indikator

Level Kognitif

Tingkat Kesulitan

Bentuk Soal

1

Siswa mampu menciptakan solusi kreatif terhadap masalah limbah produksi.

C6

mudah

pg

2

Siswa mampu menganalisis hubungan antar faktor produksi dalam peta konsep.

C4

mudah

pg

3

Siswa mampu menganalisis dampak integrasi teknologi modern dalam proses produksi.

C4

sedang

pg

4

Siswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis pemborosan dalam sistem produksi.

C4

mudah

pg

5

Siswa mampu mengevaluasi solusi teknis untuk masalah kualitas hasil produksi.

C5

sedang

pg

6

Siswa mampu merancang urutan proses produksi yang logis untuk produk kreatif.

C6

sedang

pg

7

Siswa mampu menganalisis tahapan dalam perencanaan dan pengendalian produksi.

C4

sedang

pg

8

Siswa mampu mengevaluasi risiko dari berbagai strategi sistem produksi.

C5

sedang

pg

9

Siswa mampu menganalisis masalah kolaborasi dalam tim produksi.

C4

sedang

pg

10

Siswa mampu merumuskan strategi produksi yang sesuai dengan target pasar.

C6

sedang

pg

11

Siswa mampu menganalisis data produksi untuk meningkatkan efisiensi.

C4

sulit

pg

12

Siswa mampu mengevaluasi peran teknologi dalam mendukung pengambilan keputusan produksi.

C5

sulit

pg

13

Siswa mampu merancang solusi strategis terhadap kendala biaya produksi.

C6

sulit

pg

14

Siswa mampu mengevaluasi penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam produksi.

C5

mudah

pg

15

Siswa mampu menganalisis siklus pengembangan produk kreatif.

C4

sedang

pg

1

Siswa mampu menganalisis kendala dalam alur proses produksi.

C4

sedang

isian

2

Siswa mampu mengidentifikasi konsep efisiensi dalam produksi.

C4

mudah

isian

3

Siswa mampu menganalisis tahapan pengembangan produk.

C4

sedang

isian

4

Siswa mampu mengidentifikasi instrumen penjamin mutu produksi.

C4

mudah

isian

5

Siswa mampu mengevaluasi rasio efisiensi dalam kegiatan produksi.

C5

sulit

isian

1

Siswa mampu menganalisis sumber daya produksi (5M) dalam konteks kewirausahaan.

C4

mudah

essay

2

Siswa mampu mengevaluasi penerapan sistem produksi tertentu pada skala usaha berbeda.

C5

sedang

essay

3

Siswa mampu menganalisis dampak teknologi terhadap faktor-faktor produksi.

C4

sedang

essay

4

Siswa mampu merancang rencana produksi yang inovatif dan berwawasan lingkungan.

C6

sulit

essay

5

Siswa mampu menganalisis pentingnya pengendalian mutu dalam siklus produksi.

C4

sedang

essay

 

Mengetahui,
Kepala Sekolah



____________________

__________, __________
Guru Mata Pelajaran



Stefanus Satu, S.Pd

 

SUMATIF HARIAN

 

                                                                SMKN 1 Labuan  Bajo

Kurikulum Merdeka

Mata Pelajaran Kreativitas Inovasi Kewirausahaan

Kelas XI AKL

Topik: Kegiatan Produksi


SOAL

Bagian 1. Pilihan Ganda (15 soal)

1. Sebuah UMKM kerajinan bambu di Desa Sukamaju mengalami peningkatan pesat dalam permintaan ekspor. Namun, pemilik menyadari bahwa limbah potongan bambu semakin menumpuk dan mencemari lingkungan sekitar. Berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainability), tindakan kreatif apa yang paling tepat dilakukan oleh wirausahawan tersebut?

A. Membakar limbah bambu setiap malam agar tidak menumpuk di area produksi.

B. Membayar pihak ketiga untuk membuang limbah ke tempat pembuangan akhir.

C. Mengolah limbah bambu menjadi produk briket atau kerajinan aksesoris kecil.

D. Mengurangi jumlah produksi agar limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak.

E. Menimbun limbah bambu di dalam tanah agar membusuk secara alami.

2. Perhatikan peta konsep mengenai faktor-faktor produksi di bawah ini! Bagian yang kosong pada nomor (1) dan (2) secara berurutan adalah...

Peta konsep 'Faktor Produksi' dengan cabang utama: 1. Alam, 2. [?], 3. Modal, 4. [?]. Keempat cabang ini bermuara pada kotak 'Output Produksi'.

A. Uang dan Mesin

B. Tenaga Kerja dan Kewirausahaan

C. Bahan Baku dan Distribusi

D. Pemasaran dan Manajemen

E. Teknologi dan Informasi

3. Seorang produsen sepatu olahraga memutuskan untuk menggunakan teknologi 3D Printing dalam pembuatan sol sepatu custom. Analisislah apa dampak utama dari penggunaan teknologi ini terhadap alur produksi dibandingkan dengan metode cetak manual tradisional!

A. Meningkatkan biaya bahan baku secara signifikan karena material plastik mahal.

B. Memperpanjang waktu produksi karena mesin 3D printer bekerja sangat lambat.

C. Memungkinkan personalisasi produk secara massal (mass customization) dengan efisiensi tinggi.

D. Menghilangkan kebutuhan akan tenaga kerja manusia di seluruh departemen.

E. Membatasi kreativitas desain karena keterbatasan kemampuan mesin cetak.

4. Dalam sistem produksi 'Lean Manufacturing', pemborosan (waste) harus diminimalisir. Jika sebuah pabrik garmen memproduksi pakaian dalam jumlah besar melampaui pesanan yang masuk karena mengejar target efisiensi mesin, jenis pemborosan apa yang sedang terjadi?

A. Defect (Produk cacat)

B. Over-processing (Proses berlebihan)

C. Inventory (Persediaan menumpuk)

D. Overproduction (Produksi berlebihan)

E. Waiting (Waktu tunggu)

5. Sebuah startup kuliner memproduksi keripik buah dengan kemasan plastik biasa. Setelah satu bulan, mereka menerima komplain bahwa keripik menjadi cepat melempem. Evaluasilah langkah produksi mana yang paling efektif untuk memperbaiki kualitas produk tersebut!

A. Menambah jumlah bahan pengawet kimia ke dalam keripik buah.

B. Mengganti kemasan menjadi aluminium foil dengan sistem vacuum sealing.

C. Menurunkan harga jual agar produk lebih cepat habis di tangan konsumen.

D. Meningkatkan suhu penggorengan agar keripik lebih keras dan tahan lama.

E. Memperpendek masa kadaluarsa pada label kemasan tanpa mengubah proses.

6. Anda diminta untuk merancang alur produksi untuk produk fashion 'reworked denim' (pakaian baru dari jeans bekas). Urutan langkah produksi yang paling logis dan kreatif untuk memastikan kualitas dan keunikan produk adalah...

A. Penjahitan - Pemotongan - Pembersihan bahan - Desain - Finishing

B. Pembersihan bahan - Desain - Pemotongan - Penjahitan - Quality Control

C. Desain - Penjahitan - Pembersihan bahan - Pemotongan - Pemasaran

D. Pemotongan - Penjahitan - Desain - Quality Control - Pembersihan

E. Pemasaran - Pembersihan - Desain - Penjahitan - Pengemasan

7. Lengkapilah peta konsep mengenai tahapan perencanaan produksi (Production Planning) berikut ini agar menjadi alur yang benar!

Peta konsep alur produksi: Routing -> [1] -> [2] -> Follow-up.

A. 1) Scheduling, 2) Dispatching

B. 1) Marketing, 2) Selling

C. 1) Budgeting, 2) Financing

D. 1) Designing, 2) Branding

E. 1) Recruiting, 2) Training

8. Sebuah perusahaan furnitur ingin beralih dari produksi massal ke sistem 'Make to Order' (produksi hanya saat ada pesanan). Evaluasilah risiko utama yang mungkin dihadapi perusahaan dalam proses produksinya!

A. Gudang akan penuh dengan penumpukan barang jadi yang tidak laku.

B. Waktu tunggu (lead time) pelanggan menjadi lebih lama dibandingkan produk ready stock.

C. Biaya bahan baku akan menjadi lebih murah karena membeli dalam jumlah sedikit.

D. Kreativitas pengrajin akan menurun karena hanya mengikuti pesanan.

E. Perusahaan tidak membutuhkan lagi bagian quality control.

9. Dalam memproduksi konten digital sebagai produk kreatif, kolaborasi antar tim (Communication & Collaboration) sangat krusial. Jika terjadi ketidaksesuaian antara hasil editor video dengan naskah yang dibuat scriptwriter, tahap produksi mana yang perlu diperbaiki?

A. Tahap distribusi konten ke media sosial.

B. Tahap pra-produksi (briefing dan sinkronisasi konsep).

C. Tahap penganggaran (budgeting) peralatan.

D. Tahap pencarian sponsor atau investor.

E. Tahap pemilihan platform penyiaran.

10. Seorang wirausahawan muda ingin memproduksi tas dari serat alam. Ia memiliki dua pilihan: (1) Menggunakan mesin otomatis dengan hasil seragam, atau (2) Menggunakan alat tenun tradisional (ATBM) dengan hasil yang memiliki nilai seni tinggi namun lambat. Jika target pasarnya adalah kolektor seni luar negeri, pilihlah strategi produksi yang paling tepat!

A. Menggunakan mesin otomatis agar bisa memproduksi ribuan tas dalam sehari.

B. Menggunakan ATBM karena nilai eksklusivitas dan 'storytelling' produk lebih dihargai pasar seni.

C. Menggunakan bahan sintetis agar lebih mudah dijahit dengan mesin otomatis.

D. Menghentikan produksi karena kedua metode tersebut memiliki risiko kerugian.

E. Mengimpor tas jadi dari luar negeri lalu menempelkan label brand sendiri.

11. Perhatikan data produksi harian PT Maju Jaya: Input Bahan Baku 100kg, Produk Jadi Layak Jual 85kg, Produk Cacat 10kg, Limbah Proses 5kg. Analisislah langkah apa yang paling kritis untuk meningkatkan efisiensi produksi perusahaan tersebut!

A. Meningkatkan input bahan baku menjadi 200kg agar produk jadi bertambah.

B. Melakukan evaluasi pada tahap proses untuk menekan angka produk cacat (10kg).

C. Menjual limbah proses (5kg) dengan harga murah ke pasar tradisional.

D. Mengurangi jumlah tenaga kerja agar biaya operasional menurun.

E. Mengganti jenis produk yang diproduksi dengan bahan baku yang lebih murah.

12. Dalam era Industri 4.0, seorang pengusaha roti mulai mengintegrasikan sensor IoT (Internet of Things) pada oven produksinya untuk memantau suhu secara real-time dari ponselnya. Evaluasilah bagaimana inovasi ini mempengaruhi karakter 'Critical Thinking' dalam pengelolaan produksi!

A. Membuat pengusaha menjadi malas karena semua sudah otomatis.

B. Menghilangkan kebutuhan akan intuisi dan pengalaman dalam membuat roti.

C. Memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data (data-driven) jika terjadi anomali suhu.

D. Hanya menambah biaya pengeluaran listrik dan internet tanpa manfaat nyata.

E. Memaksa pengusaha untuk selalu berada di depan komputer setiap saat.

13. Bayangkan Anda adalah manajer produksi sebuah pabrik sabun organik. Anda menemukan bahwa salah satu bahan baku utama (minyak kelapa) mengalami kenaikan harga 50%. Rancanglah strategi produksi kreatif agar harga jual produk tetap stabil tanpa mengorbankan kualitas inti!

A. Mengganti minyak kelapa dengan minyak goreng bekas (jelantah) tanpa filtrasi.

B. Mengecilkan ukuran sabun secara drastis (shrinkflation) namun harga tetap.

C. Melakukan negosiasi kontrak jangka panjang dengan petani lokal atau mencari substitusi minyak nabati lain yang setara kualitasnya.

D. Menutup pabrik sementara sampai harga minyak kelapa kembali normal.

E. Mengurangi konsentrasi bahan aktif sabun sehingga sabun kurang berbusa.

14. Sebuah bengkel modifikasi motor ingin menerapkan prinsip 'Citizenship' (Kewarganegaraan) dalam kegiatan produksinya. Manakah tindakan berikut yang paling mencerminkan integrasi nilai tersebut?

A. Menggunakan knalpot brong yang suaranya sangat bising agar terkenal.

B. Membuang oli bekas ke selokan warga saat malam hari agar tidak ketahuan.

C. Membuka program magang bagi pemuda putus sekolah di lingkungan sekitar bengkel untuk belajar mekanik.

D. Hanya menerima pelanggan dari kalangan pejabat atau orang kaya saja.

E. Menghindari pembayaran pajak usaha dengan memanipulasi laporan produksi.

15. Analisis alur produksi berikut: (1) Riset Pasar -> (2) Pembuatan Prototipe -> (3) Uji Coba Produk -> (4) Produksi Massal -> (5) Evaluasi Konsumen. Jika tahap (3) menunjukkan hasil bahwa produk sulit digunakan oleh konsumen, tindakan apa yang harus diambil sesuai prinsip kreativitas dan inovasi?

A. Tetap melanjutkan ke tahap (4) karena biaya riset sudah terlalu mahal.

B. Kembali ke tahap (2) untuk merevisi desain prototipe berdasarkan feedback uji coba.

C. Langsung melompat ke tahap (5) untuk melihat apakah ada konsumen yang menyukainya.

D. Menghapus produk tersebut dan menggantinya dengan produk milik kompetitor.

E. Menyalahkan tim uji coba karena dianggap tidak kompeten dalam menguji.

Bagian 2. Isian Singkat (5 soal)

1. Dalam alur produksi massal, seringkali terjadi penumpukan barang pada satu titik proses yang memperlambat seluruh rangkaian produksi. Fenomena hambatan atau titik macet ini secara teknis disebut dengan istilah...

2. Metode produksi yang berfokus pada penghapusan pemborosan (waste) dan peningkatan efisiensi secara terus-menerus untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan dikenal dengan istilah...

3. Sebelum memproduksi produk dalam skala besar, wirausahawan perlu membuat model awal yang dapat diuji coba fungsinya. Tahapan pembuatan model awal ini disebut...

4. Dokumen tertulis yang berisi instruksi langkah-demi-langkah yang harus diikuti oleh pekerja untuk memastikan kualitas produk tetap konsisten dan aman disebut dengan...

5. Indikator keberhasilan produksi yang mengukur rasio antara total output yang dihasilkan dibandingkan dengan total input (sumber daya) yang digunakan disebut...

Bagian 3. Essay / Uraian (5 soal)

1. Seorang siswa SMK ingin membuka usaha keripik pisang dengan berbagai varian rasa. Analisislah rencana produksi usaha tersebut menggunakan unsur 5M (Man, Money, Material, Machine, Method) agar proses produksinya berjalan efektif dan efisien!

2. Sistem produksi Just-In-Time (JIT) sering digunakan perusahaan besar untuk menekan biaya gudang. Evaluasilah apakah sistem JIT ini cocok diterapkan untuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di Indonesia yang baru merintis? Berikan alasan dan risiko yang mungkin dihadapi!

3. Di era industri 4.0, banyak usaha mulai beralih menggunakan otomatisasi mesin. Analisislah dampak positif dan negatif penggunaan teknologi otomatisasi terhadap aspek 'Man' (tenaga kerja) dan aspek 'Cost' (biaya) dalam jangka panjang!

4. Sebagai seorang inovator, rancanglah sebuah alur produksi yang menerapkan konsep 'Green Production' (Produksi Ramah Lingkungan) untuk sebuah usaha konveksi pakaian. Jelaskan langkah-langkah inovatif yang Anda ambil untuk meminimalkan limbah kain!

5. Mengapa kegiatan Quality Control (QC) harus dilakukan di setiap tahapan produksi (awal, tengah, dan akhir) dan bukan hanya di akhir proses saja? Jelaskan kaitannya dengan efisiensi biaya dan kepuasan pelanggan!

 

Mengetahui,
Kepala Sekolah



____________________

__________, __________
Guru Mata Pelajaran



Stefanus Satu, S.Pd