https://drive.google.com/drive/folders/19bWnWPqyUiJ2zhB9ri2wDcl6Ub12bRhq?usp=drive_link
stefanussatubloger
Blog ini adalah blog pribadi yang diguakan untuk menampung ide-ide bisnis, pikiran positif dan media yang inspiratif
Rabu, 08 April 2026
MODUL AJAR / RPM
|
Sekolah |
SMKN
1 LABUAN BAJO |
|
Nama
Guru |
STEFANUS
SATU, S. Pd |
|
Mata
Pelajaran |
Kreativitas,
Inovasi dan Kewirausahaan (KIK) |
|
Kelas
/ Semester |
XI / 1 |
|
Alokasi
Waktu |
10
JP (2 Pertemuan x 5 JP @45 Menit) |
Analisis Peserta Didik:
Peserta didik kelas 11 SMK
berada pada fase remaja akhir yang memiliki energi eksploratif tinggi namun
seringkali terhambat oleh rasa takut akan kegagalan (fixed mindset). Di SMKN 1
Labuan Bajo, siswa terpapar pada industri pariwisata yang dinamis, menuntut
kemampuan adaptasi dan kreativitas tinggi. Secara kognitif, mereka siap
melakukan penalaran kritis namun memerlukan stimulasi konkret untuk membangun
kemandirian dalam mengambil keputusan kewirausahaan.
Analisis Materi:
Materi mencakup dikotomi
antara Growth Mindset dan Fixed Mindset, teknik berpikir kreatif (SCAMPER),
serta identifikasi karakter wirausaha. Fokus utama bukan sekadar teori,
melainkan internalisasi nilai-nilai kreativitas sebagai solusi atas hambatan
mental (mental block) dalam berwirausaha.
Pilihan Dimensi Profil Lulusan:
Keimanan
dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran
Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi
B.
DESAIN PEMBELAJARAN
|
Capaian
Pembelajaran |
1. Kreativitas Menerapkan konsep kreativitas, pola pikir
berkembang (growth mindset), karakter wirausaha, eksplorasi ide, penciptaan
gagasan baru, dan mengaplikasikan kreativitas dalam praktik kewirausahaan. |
|
Lintas
Disiplin Ilmu |
Bahasa Indonesia (Literasi kritis), Informatika
(Pemanfatan platform digital), dan Bimbingan Konseling (Psikologi
perkembangan diri). |
|
Tujuan
Pembelajaran |
Menganalisis konsep kreativitas dan menerapkan pola pikir
berkembang (growth mindset) dalam konteks kewirausahaan. |
|
Topik
Pembelajaran |
Kreativitas dan Growth Mindset Wirausaha: Teori, Transformasi
Mental, dan Refleksi Diri |
|
Praktik
Pedagogis (Model) |
Deep Learning (6C: Critical Thinking, Creativity,
Collaboration, Communication, Character, Citizenship) dengan model
Inquiry-Based Learning dan Refleksi Metakognitif. |
|
Kemitraan
Pembelajaran |
Observasi virtual atau wawancara dengan pelaku UMKM
kreatif di Labuan Bajo (misal: pengusaha oleh-oleh atau jasa wisata). |
|
Lingkungan
Pembelajaran |
Ruang kelas yang diatur secara kolaboratif (Round Table),
area terbuka sekolah untuk aktivitas eksplorasi ide. |
|
Pemanfaatan
Digital |
Padlet (Curating ideas), Mentimeter (Live polling), Canva
(Mindset visualization), dan LMS/Google Classroom. |
C.
PENGALAMAN BELAJAR
|
Tahapan |
Aktivitas Konkret (Deep
Learning) |
|
AWAL |
Pembelajaran dimulai dengan 'Emotional Hook' melalui
penayangan video singkat transformasi tokoh wirausaha sukses yang berangkat
dari kegagalan total. Guru memfasilitasi sesi 'Mindset Check-in' di mana
siswa diminta menuliskan satu kata yang menggambarkan perasaan mereka saat
mendengar kata 'Kegagalan' pada aplikasi Mentimeter. Hal ini bertujuan untuk
mengaktifkan sistem limbik (emosi) siswa dan membangun koneksi bermakna
antara pengalaman pribadi mereka dengan materi yang akan dipelajari
(Neuroscience: Emotion and Memory). Setelah itu, guru melakukan apersepsi
melalui permainan 'The Unusual Use of an Object'. Siswa secara mandiri
(Kemandirian) diberikan waktu 3 menit untuk memikirkan sebanyak mungkin
fungsi tidak lazim dari sebuah benda sederhana (misal: jepit rambut atau
botol plastik kosong). Aktivitas ini bertujuan untuk 'pemanasan' otak kanan
dan menstimulasi jalur neural kreatif siswa sebelum masuk ke materi inti.
Guru memberikan penguatan bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif yang
dapat dilatih, bukan bakat bawaan yang kaku. Guru kemudian memaparkan tujuan
pembelajaran dan menyepakati 'Kontrak Belajar' bersama siswa. Di sini,
prinsip Student Agency diterapkan dengan memberikan pilihan (Choice) kepada
siswa mengenai bagaimana mereka ingin mendokumentasikan pembelajaran hari ini
(apakah melalui catatan visual, podcast pendek, atau peta konsep). Guru
menekankan bahwa dimensi Penalaran Kritis, Kreativitas, dan Kemandirian akan
menjadi kompas utama selama proses belajar, menciptakan rasa kepemilikan
(Ownership) atas tujuan belajar mereka sendiri. (45 Menit) |
|
INTI:
Memahami |
Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil untuk melakukan 'Deep
Dive Inquiry' terhadap konsep Growth vs Fixed Mindset. Guru menyediakan
'Station Learning' di mana setiap stasiun memiliki sumber belajar yang
berbeda: video wawancara, artikel studi kasus bisnis yang bangkrut karena
kaku (Fixed Mindset), dan biografi pengusaha yang melakukan pivot (Growth
Mindset). Siswa harus melakukan Penalaran Kritis dengan membandingkan pola
pikir di balik setiap kasus tersebut. Mereka didorong untuk saling bertanya
'Mengapa' dan 'Bagaimana jika' guna melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi
(HOTS). Interaksi guru-siswa berfokus pada teknik Scaffolding, di mana guru
berkeliling bukan untuk memberikan jawaban, melainkan melontarkan pertanyaan
provokatif yang menantang asumsi siswa. Siswa didorong untuk menyuarakan
(Voice) pendapat mereka secara bebas tanpa takut salah. Di setiap stasiun,
siswa harus mengumpulkan 'puzzle konsep' yang menggambarkan karakteristik
kreativitas wirausaha, seperti keberanian mengambil risiko, orisinalitas, dan
kegigihan. Penggunaan media digital seperti Padlet digunakan sebagai papan
diskusi transparan. Setiap kelompok mengunggah hasil analisis kritis mereka
ke Padlet, sehingga kelompok lain dapat memberikan umpan balik (Peer-Feedback)
secara langsung. Proses ini membangun literasi digital sekaligus melatih
kolaborasi dan komunikasi dalam menganalisis konsep-konsep abstrak menjadi
pemahaman yang konkret dan aplikatif dalam konteks kewirausahaan lokal di
Labuan Bajo. Sebagai penutup fase memahami, guru memfasilitasi 'Classroom
Debates' mini tentang topik: 'Apakah kreativitas bisa diajarkan atau
merupakan bakat lahir?'. Aktivitas ini bertujuan menguji pemahaman mendalam
mereka tentang konsep Growth Mindset. Siswa harus mempertahankan argumen
mereka dengan bukti dari studi kasus yang telah dibaca, yang secara langsung
mengasah dimensi Penalaran Kritis mereka secara intensif. (90 Menit) |
|
INTI:
Mengaplikasi |
Siswa masuk ke fase 'The Creative Mindset Challenge'.
Dalam fase ini, siswa diminta untuk mengidentifikasi satu masalah nyata yang
ada di lingkungan sekolah atau sekitar Labuan Bajo (misal: sampah plastik,
kurangnya akses informasi wisata bagi difabel, dll). Dengan menggunakan
prinsip Kemandirian, setiap siswa atau kelompok kecil harus memilih satu
masalah yang paling mereka pedulikan. Mereka kemudian menerapkan konsep
kreativitas dan pola pikir berkembang untuk merancang draf solusi
kewirausahaan sederhana. Guru memperkenalkan teknik SCAMPER (Substitute,
Combine, Adapt, Modify, Put to another use, Eliminate, Reverse) sebagai alat
bantu berpikir kreatif. Siswa menerapkan teknik ini untuk membedah masalah
yang dipilih. Di sini, Kreativitas siswa diuji untuk tidak hanya mencari
solusi umum, tetapi solusi yang unik dan memiliki nilai ekonomi. Mereka
didorong untuk melakukan 'Rapid Prototyping' ide, baik dalam bentuk gambar,
maket dari bahan bekas, atau alur jasa (Service Design). Selama proses ini,
guru berperan sebagai mentor/coach. Ketika siswa menemui hambatan (misal:
'Idenya terlalu sulit, Pak'), guru mendorong penggunaan 'The Power of Yet'
(Saya belum bisa melakukannya, belum tentu tidak bisa). Siswa diajak untuk
melakukan 'Trial and Error' kecil di dalam kelas, mencoba mempresentasikan
ide kasar mereka kepada rekan sejawat untuk mendapatkan masukan. Ini adalah
aplikasi nyata dari Growth Mindset di mana umpan balik dianggap sebagai bahan
bakar untuk perbaikan, bukan kritik pribadi. Siswa memiliki kendali penuh
(Ownership) atas proyek mereka. Mereka bebas memilih media presentasi, baik
itu berupa poster digital Canva, simulasi drama pendek, atau presentasi
'Pitch Deck' ala startup. Di akhir sesi, setiap kelompok memamerkan 'Peta
Transformasi Mindset' mereka yang menunjukkan bagaimana ide mereka berkembang
dari konsep awal yang sederhana menjadi ide yang lebih kompleks dan solutif
setelah melalui proses diskusi dan revisi. (135 Menit) |
|
INTI:
Merefleksi |
Refleksi dilakukan dengan pendekatan 'Metacognitive
Journaling'. Siswa diminta untuk merenung secara mendalam tentang perjalanan
emosional dan intelektual mereka selama pembelajaran. Mereka menjawab
pertanyaan reflektif seperti: 'Asumsi apa yang saya miliki tentang diri saya
sebelum kelas ini?', 'Bagaimana perubahan pola pikir ini akan mempengaruhi
cara saya menghadapi kegagalan di masa depan?', dan 'Sejauh mana saya telah
bertindak mandiri dalam tugas tadi?'. Ini membantu memperkuat jalur saraf
terkait pemahaman diri (Self-Awareness). Guru memfasilitasi sesi 'Circle of
Trust' di mana beberapa siswa secara sukarela berbagi refleksi mereka. Siswa
didorong untuk jujur mengenai ketakutan atau keraguan mereka. Guru memberikan
apresiasi atas kejujuran dan kemauan untuk berkembang (Growth Mindset).
Refleksi ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir proyek, tetapi lebih pada
proses internal perubahan mindset. Siswa juga melakukan evaluasi diri
terhadap penguasaan Profil Lulusan (Penalaran Kritis, Kreativitas,
Kemandirian) menggunakan radar chart sederhana yang mereka gambar sendiri.
Mereka menentukan di titik mana mereka berada dan apa langkah konkret yang akan
diambil untuk mencapai level berikutnya. Hal ini menegaskan bahwa belajar
adalah perjalanan kontinu yang mereka kendalikan sendiri. Sebagai penutup
refleksi, guru mengaitkan pembelajaran hari ini dengan kebutuhan nyata di
industri pariwisata Labuan Bajo, di mana perubahan terjadi sangat cepat dan
hanya mereka yang memiliki mindset berkembang serta kreativitas tinggi yang
dapat bertahan dan memimpin. Siswa meninggalkan kelas dengan 'Mindset
Statement' pribadi yang mereka tulis di selembar kertas dan ditempel di
dinding kelas sebagai pengingat harian. (45 Menit) |
|
PENUTUP |
Guru memandu sesi kesimpulan kolektif dengan teknik 'The
Last Minute Stand'. Siswa secara bergantian berdiri dan menyampaikan satu
kalimat kunci yang paling berkesan dari pembelajaran hari ini,
menghubungkannya dengan bagaimana mereka akan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari sebagai calon wirausahawan. Guru merangkum semua poin tersebut
menjadi sebuah 'Manifesto Kreativitas Kelas 11' yang akan dipasang di LMS
sekolah sebagai referensi bersama. Sebagai rencana tindak lanjut, guru
memberikan tantangan 'Growth Mindset in Action' untuk satu minggu ke depan:
siswa diminta untuk mencoba satu hal baru yang selama ini mereka takuti atau
anggap mereka tidak berbakat di dalamnya (misal: berbicara di depan umum,
belajar coding dasar, atau memasak menu baru). Mereka diminta mencatat
prosesnya dan membawanya pada pertemuan berikutnya. Pembelajaran diakhiri
dengan doa dan apresiasi hangat dari guru atas keberanian siswa untuk keluar
dari zona nyaman, menciptakan atmosfer yang menggembirakan dan penuh harapan. (45 Menit) |
D.
ASESMEN PEMBELAJARAN
|
Asesmen Awal (Diagnostic) |
Asesmen Proses (Formative) |
Asesmen Akhir (Summative) |
|
Tes
Diagnostik Non-Kognitif (Kuesioner mindset Dweck) untuk memetakan profil awal
mindset siswa (Fixed vs Growth). |
Observasi
sistematis menggunakan lembar ceklis selama diskusi kelompok (Penalaran
Kritis) dan proses pengerjaan proyek (Kemandirian dan Kreativitas). Umpan
balik formatif diberikan secara real-time melalui komentar di Padlet. |
Portofolio
'Mindset Transformation Project' yang berisi: Analisis kasus, Draf Solusi
Kreatif (SCAMPER), dan Jurnal Refleksi Metakognitif. |
Teknik Penilaian:
Self-Assessment, Peer-Assessment (360 feedback), dan Rubrik Penilaian
Kinerja.
E.
RUBRIK PENILAIAN
|
Indikator |
Baru Memulai |
Berkembang |
Cakap |
Mahir |
|
Penalaran
Kritis (Analisis Mindset) |
Hanya
mampu menyebutkan definisi mindset tanpa mampu membedakan karakteristiknya
secara jelas. |
Mampu
membedakan Fixed dan Growth mindset namun belum bisa mengaitkannya dengan
kegagalan bisnis. |
Mampu
menganalisis hubungan antara pola pikir dengan keputusan bisnis dalam studi
kasus secara logis. |
Mampu
melakukan analisis mendalam dan kritis terhadap berbagai kompleksitas pola
pikir serta memberikan alternatif solusi yang berdasar pada data/teori. |
|
Kreativitas
(Aplikasi SCAMPER) |
Menghasilkan
ide yang bersifat meniru ide yang sudah ada tanpa ada modifikasi. |
Mampu
menggunakan 1-2 elemen SCAMPER untuk memodifikasi produk/jasa yang sudah ada. |
Mampu
menggunakan minimal 4 elemen SCAMPER untuk menghasilkan solusi yang orisinal
dan aplikatif. |
Menghasilkan
gagasan yang sangat orisinal, disruptif, dan memiliki potensi nilai ekonomi
tinggi serta keberlanjutan. |
|
Kemandirian
(Refleksi & Manajemen Belajar) |
Memerlukan
instruksi terus-menerus dan belum mampu melakukan refleksi mandiri. |
Mampu
mengerjakan tugas secara mandiri namun refleksi masih bersifat permukaan
(hanya perasaan). |
Mampu
mengatur strategi belajar sendiri dan melakukan refleksi yang menghubungkan
pengalaman dengan tindakan masa depan. |
Menunjukkan
determinasi tinggi dalam belajar, melakukan evaluasi diri secara jujur, dan
memiliki rencana pengembangan diri yang sistematis. |
F.
PENGAYAAN & REMEDIAL
PENGAYAAN (HOTS):
Siswa yang sudah mahir diberikan tantangan untuk menjadi
'Mindset Coach' bagi adik kelas atau merancang proposal bisnis awal untuk
dikompetisikan di tingkat sekolah/kabupaten.
REMEDIAL:
Pendampingan khusus (One-on-one coaching) untuk membantu
siswa mengidentifikasi hambatan mental (mental block) mereka dan memberikan
tugas kecil yang menjamin 'Quick Wins' untuk membangun kepercayaan diri.
G.
LAMPIRAN TAMBAHAN
Bahan Bacaan Siswa:
Buku Paket PKK Kelas XI, Artikel tentang 'Kisah Sukses
UMKM Labuan Bajo', Infografis 7 Teknik Berpikir Kreatif.
Bahan Bacaan Guru:
Mindset: The New Psychology of Success oleh Carol S.
Dweck, Deep Learning: Engage the World Change the World oleh Michael Fullan.
Media Pembelajaran & Video:
Slide Presentasi, Video YouTube 'The Power of Belief',
Template SCAMPER, Aplikasi Mentimeter/Padlet.
Glosarium:
Growth Mindset: Pola pikir berkembang. Fixed Mindset:
Pola pikir statis. Pivot: Strategi mengubah arah bisnis tanpa mengubah visi.
SCAMPER: Teknik memicu kreativitas.
Daftar Pustaka:
Dweck, C. S. (2006). Mindset. New York: Random House.
Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta.
Jumat, 03 April 2026
KISI-KISI SOAL
SUMATIF HARIAN
Kurikulum
Merdeka
SMK
Kelas 11 - SMKN 1 Labuan Bajo
Topik:
Kegiatan Produksi
KISI-KISI SOAL
|
No |
Indikator |
Level
Kognitif |
Tingkat
Kesulitan |
Bentuk
Soal |
|
1 |
Siswa
mampu menciptakan solusi kreatif terhadap masalah limbah produksi. |
C6 |
mudah |
pg |
|
2 |
Siswa
mampu menganalisis hubungan antar faktor produksi dalam peta konsep. |
C4 |
mudah |
pg |
|
3 |
Siswa
mampu menganalisis dampak integrasi teknologi modern dalam proses produksi. |
C4 |
sedang |
pg |
|
4 |
Siswa
mampu mengidentifikasi jenis-jenis pemborosan dalam sistem produksi. |
C4 |
mudah |
pg |
|
5 |
Siswa
mampu mengevaluasi solusi teknis untuk masalah kualitas hasil produksi. |
C5 |
sedang |
pg |
|
6 |
Siswa
mampu merancang urutan proses produksi yang logis untuk produk kreatif. |
C6 |
sedang |
pg |
|
7 |
Siswa
mampu menganalisis tahapan dalam perencanaan dan pengendalian produksi. |
C4 |
sedang |
pg |
|
8 |
Siswa
mampu mengevaluasi risiko dari berbagai strategi sistem produksi. |
C5 |
sedang |
pg |
|
9 |
Siswa
mampu menganalisis masalah kolaborasi dalam tim produksi. |
C4 |
sedang |
pg |
|
10 |
Siswa
mampu merumuskan strategi produksi yang sesuai dengan target pasar. |
C6 |
sedang |
pg |
|
11 |
Siswa
mampu menganalisis data produksi untuk meningkatkan efisiensi. |
C4 |
sulit |
pg |
|
12 |
Siswa
mampu mengevaluasi peran teknologi dalam mendukung pengambilan keputusan
produksi. |
C5 |
sulit |
pg |
|
13 |
Siswa
mampu merancang solusi strategis terhadap kendala biaya produksi. |
C6 |
sulit |
pg |
|
14 |
Siswa
mampu mengevaluasi penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila dalam
produksi. |
C5 |
mudah |
pg |
|
15 |
Siswa
mampu menganalisis siklus pengembangan produk kreatif. |
C4 |
sedang |
pg |
|
1 |
Siswa
mampu menganalisis kendala dalam alur proses produksi. |
C4 |
sedang |
isian |
|
2 |
Siswa
mampu mengidentifikasi konsep efisiensi dalam produksi. |
C4 |
mudah |
isian |
|
3 |
Siswa
mampu menganalisis tahapan pengembangan produk. |
C4 |
sedang |
isian |
|
4 |
Siswa
mampu mengidentifikasi instrumen penjamin mutu produksi. |
C4 |
mudah |
isian |
|
5 |
Siswa
mampu mengevaluasi rasio efisiensi dalam kegiatan produksi. |
C5 |
sulit |
isian |
|
1 |
Siswa
mampu menganalisis sumber daya produksi (5M) dalam konteks kewirausahaan. |
C4 |
mudah |
essay |
|
2 |
Siswa
mampu mengevaluasi penerapan sistem produksi tertentu pada skala usaha
berbeda. |
C5 |
sedang |
essay |
|
3 |
Siswa
mampu menganalisis dampak teknologi terhadap faktor-faktor produksi. |
C4 |
sedang |
essay |
|
4 |
Siswa
mampu merancang rencana produksi yang inovatif dan berwawasan lingkungan. |
C6 |
sulit |
essay |
|
5 |
Siswa
mampu menganalisis pentingnya pengendalian mutu dalam siklus produksi. |
C4 |
sedang |
essay |
|
Mengetahui, |
__________, __________ |
SUMATIF HARIAN
SMKN 1 Labuan Bajo
Kurikulum
Merdeka
Mata Pelajaran Kreativitas Inovasi Kewirausahaan
Kelas XI AKL
Topik:
Kegiatan Produksi
SOAL
Bagian 1. Pilihan Ganda (15 soal)
1. Sebuah UMKM kerajinan bambu
di Desa Sukamaju mengalami peningkatan pesat dalam permintaan ekspor. Namun,
pemilik menyadari bahwa limbah potongan bambu semakin menumpuk dan mencemari
lingkungan sekitar. Berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan
(sustainability), tindakan kreatif apa yang paling tepat dilakukan oleh
wirausahawan tersebut?
A. Membakar limbah bambu setiap malam
agar tidak menumpuk di area produksi.
B. Membayar pihak ketiga untuk
membuang limbah ke tempat pembuangan akhir.
C. Mengolah limbah bambu menjadi
produk briket atau kerajinan aksesoris kecil.
D. Mengurangi jumlah produksi agar
limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak.
E. Menimbun limbah bambu di dalam tanah agar membusuk secara alami.
2. Perhatikan peta
konsep mengenai faktor-faktor produksi di bawah ini! Bagian yang kosong pada
nomor (1) dan (2) secara berurutan adalah...
Peta konsep 'Faktor
Produksi' dengan cabang utama: 1. Alam, 2. [?], 3. Modal, 4. [?]. Keempat
cabang ini bermuara pada kotak 'Output Produksi'.
A. Uang dan Mesin
B. Tenaga Kerja dan Kewirausahaan
C. Bahan Baku dan Distribusi
D. Pemasaran dan Manajemen
E. Teknologi dan Informasi
3.
Seorang produsen sepatu olahraga memutuskan untuk menggunakan teknologi 3D
Printing dalam pembuatan sol sepatu custom. Analisislah apa dampak utama dari
penggunaan teknologi ini terhadap alur produksi dibandingkan dengan metode
cetak manual tradisional!
A. Meningkatkan
biaya bahan baku secara signifikan karena material plastik mahal.
B. Memperpanjang
waktu produksi karena mesin 3D printer bekerja sangat lambat.
C. Memungkinkan
personalisasi produk secara massal (mass customization) dengan efisiensi
tinggi.
D. Menghilangkan
kebutuhan akan tenaga kerja manusia di seluruh departemen.
E. Membatasi
kreativitas desain karena keterbatasan kemampuan mesin cetak.
4.
Dalam sistem produksi 'Lean Manufacturing', pemborosan (waste) harus
diminimalisir. Jika sebuah pabrik garmen memproduksi pakaian dalam jumlah besar
melampaui pesanan yang masuk karena mengejar target efisiensi mesin, jenis
pemborosan apa yang sedang terjadi?
A. Defect (Produk
cacat)
B. Over-processing
(Proses berlebihan)
C. Inventory
(Persediaan menumpuk)
D. Overproduction
(Produksi berlebihan)
E. Waiting (Waktu
tunggu)
5.
Sebuah startup kuliner memproduksi keripik buah dengan kemasan plastik biasa.
Setelah satu bulan, mereka menerima komplain bahwa keripik menjadi cepat
melempem. Evaluasilah langkah produksi mana yang paling efektif untuk
memperbaiki kualitas produk tersebut!
A. Menambah jumlah
bahan pengawet kimia ke dalam keripik buah.
B. Mengganti kemasan
menjadi aluminium foil dengan sistem vacuum sealing.
C. Menurunkan
harga jual agar produk lebih cepat habis di tangan konsumen.
D. Meningkatkan
suhu penggorengan agar keripik lebih keras dan tahan lama.
E. Memperpendek
masa kadaluarsa pada label kemasan tanpa mengubah proses.
6.
Anda diminta untuk merancang alur produksi untuk produk fashion 'reworked
denim' (pakaian baru dari jeans bekas). Urutan langkah produksi yang paling
logis dan kreatif untuk memastikan kualitas dan keunikan produk adalah...
A. Penjahitan -
Pemotongan - Pembersihan bahan - Desain - Finishing
B. Pembersihan
bahan - Desain - Pemotongan - Penjahitan - Quality Control
C. Desain -
Penjahitan - Pembersihan bahan - Pemotongan - Pemasaran
D. Pemotongan -
Penjahitan - Desain - Quality Control - Pembersihan
E. Pemasaran -
Pembersihan - Desain - Penjahitan - Pengemasan
7.
Lengkapilah peta konsep mengenai tahapan perencanaan produksi (Production
Planning) berikut ini agar menjadi alur yang benar!
Peta konsep alur produksi: Routing
-> [1] -> [2] -> Follow-up.
A. 1) Scheduling,
2) Dispatching
B. 1) Marketing,
2) Selling
C. 1) Budgeting,
2) Financing
D. 1) Designing,
2) Branding
E. 1) Recruiting,
2) Training
8.
Sebuah perusahaan furnitur ingin beralih dari produksi massal ke sistem 'Make
to Order' (produksi hanya saat ada pesanan). Evaluasilah risiko utama yang
mungkin dihadapi perusahaan dalam proses produksinya!
A. Gudang akan penuh dengan
penumpukan barang jadi yang tidak laku.
B. Waktu tunggu (lead time) pelanggan
menjadi lebih lama dibandingkan produk ready stock.
C. Biaya bahan baku akan menjadi
lebih murah karena membeli dalam jumlah sedikit.
D. Kreativitas pengrajin akan menurun
karena hanya mengikuti pesanan.
E. Perusahaan tidak membutuhkan lagi
bagian quality control.
9.
Dalam memproduksi konten digital sebagai produk kreatif, kolaborasi antar tim
(Communication & Collaboration) sangat krusial. Jika terjadi
ketidaksesuaian antara hasil editor video dengan naskah yang dibuat
scriptwriter, tahap produksi mana yang perlu diperbaiki?
A. Tahap
distribusi konten ke media sosial.
B. Tahap
pra-produksi (briefing dan sinkronisasi konsep).
C. Tahap
penganggaran (budgeting) peralatan.
D. Tahap pencarian
sponsor atau investor.
E. Tahap pemilihan
platform penyiaran.
10. Seorang wirausahawan muda
ingin memproduksi tas dari serat alam. Ia memiliki dua pilihan: (1) Menggunakan
mesin otomatis dengan hasil seragam, atau (2) Menggunakan alat tenun
tradisional (ATBM) dengan hasil yang memiliki nilai seni tinggi namun lambat.
Jika target pasarnya adalah kolektor seni luar negeri, pilihlah strategi
produksi yang paling tepat!
A. Menggunakan mesin otomatis agar
bisa memproduksi ribuan tas dalam sehari.
B. Menggunakan ATBM karena nilai
eksklusivitas dan 'storytelling' produk lebih dihargai pasar seni.
C. Menggunakan bahan sintetis agar
lebih mudah dijahit dengan mesin otomatis.
D. Menghentikan produksi karena kedua
metode tersebut memiliki risiko kerugian.
E. Mengimpor tas jadi dari luar
negeri lalu menempelkan label brand sendiri.
11. Perhatikan data produksi
harian PT Maju Jaya: Input Bahan Baku 100kg, Produk Jadi Layak Jual 85kg,
Produk Cacat 10kg, Limbah Proses 5kg. Analisislah langkah apa yang paling
kritis untuk meningkatkan efisiensi produksi perusahaan tersebut!
A. Meningkatkan input bahan baku
menjadi 200kg agar produk jadi bertambah.
B. Melakukan evaluasi pada tahap
proses untuk menekan angka produk cacat (10kg).
C. Menjual limbah proses (5kg) dengan
harga murah ke pasar tradisional.
D. Mengurangi jumlah tenaga kerja
agar biaya operasional menurun.
E. Mengganti jenis produk yang
diproduksi dengan bahan baku yang lebih murah.
12. Dalam era Industri 4.0,
seorang pengusaha roti mulai mengintegrasikan sensor IoT (Internet of Things)
pada oven produksinya untuk memantau suhu secara real-time dari ponselnya.
Evaluasilah bagaimana inovasi ini mempengaruhi karakter 'Critical Thinking'
dalam pengelolaan produksi!
A. Membuat
pengusaha menjadi malas karena semua sudah otomatis.
B. Menghilangkan
kebutuhan akan intuisi dan pengalaman dalam membuat roti.
C. Memungkinkan
pengambilan keputusan berbasis data (data-driven) jika terjadi anomali suhu.
D. Hanya menambah
biaya pengeluaran listrik dan internet tanpa manfaat nyata.
E. Memaksa
pengusaha untuk selalu berada di depan komputer setiap saat.
13.
Bayangkan Anda adalah manajer produksi sebuah pabrik sabun organik. Anda
menemukan bahwa salah satu bahan baku utama (minyak kelapa) mengalami kenaikan
harga 50%. Rancanglah strategi produksi kreatif agar harga jual produk tetap
stabil tanpa mengorbankan kualitas inti!
A. Mengganti
minyak kelapa dengan minyak goreng bekas (jelantah) tanpa filtrasi.
B. Mengecilkan
ukuran sabun secara drastis (shrinkflation) namun harga tetap.
C. Melakukan
negosiasi kontrak jangka panjang dengan petani lokal atau mencari substitusi
minyak nabati lain yang setara kualitasnya.
D. Menutup pabrik
sementara sampai harga minyak kelapa kembali normal.
E. Mengurangi
konsentrasi bahan aktif sabun sehingga sabun kurang berbusa.
14.
Sebuah bengkel modifikasi motor ingin menerapkan prinsip 'Citizenship'
(Kewarganegaraan) dalam kegiatan produksinya. Manakah tindakan berikut yang
paling mencerminkan integrasi nilai tersebut?
A. Menggunakan
knalpot brong yang suaranya sangat bising agar terkenal.
B. Membuang oli
bekas ke selokan warga saat malam hari agar tidak ketahuan.
C. Membuka program
magang bagi pemuda putus sekolah di lingkungan sekitar bengkel untuk belajar
mekanik.
D. Hanya menerima
pelanggan dari kalangan pejabat atau orang kaya saja.
E. Menghindari
pembayaran pajak usaha dengan memanipulasi laporan produksi.
15.
Analisis alur produksi berikut: (1) Riset Pasar -> (2) Pembuatan Prototipe
-> (3) Uji Coba Produk -> (4) Produksi Massal -> (5) Evaluasi
Konsumen. Jika tahap (3) menunjukkan hasil bahwa produk sulit digunakan oleh
konsumen, tindakan apa yang harus diambil sesuai prinsip kreativitas dan
inovasi?
A. Tetap
melanjutkan ke tahap (4) karena biaya riset sudah terlalu mahal.
B. Kembali ke
tahap (2) untuk merevisi desain prototipe berdasarkan feedback uji coba.
C. Langsung
melompat ke tahap (5) untuk melihat apakah ada konsumen yang menyukainya.
D. Menghapus
produk tersebut dan menggantinya dengan produk milik kompetitor.
E. Menyalahkan tim
uji coba karena dianggap tidak kompeten dalam menguji.
Bagian 2. Isian Singkat (5 soal)
1. Dalam alur produksi massal,
seringkali terjadi penumpukan barang pada satu titik proses yang memperlambat
seluruh rangkaian produksi. Fenomena hambatan atau titik macet ini secara
teknis disebut dengan istilah...
2. Metode produksi yang berfokus
pada penghapusan pemborosan (waste) dan peningkatan efisiensi secara
terus-menerus untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan dikenal dengan
istilah...
3. Sebelum memproduksi produk
dalam skala besar, wirausahawan perlu membuat model awal yang dapat diuji coba
fungsinya. Tahapan pembuatan model awal ini disebut...
4. Dokumen tertulis yang berisi
instruksi langkah-demi-langkah yang harus diikuti oleh pekerja untuk memastikan
kualitas produk tetap konsisten dan aman disebut dengan...
5. Indikator keberhasilan
produksi yang mengukur rasio antara total output yang dihasilkan dibandingkan
dengan total input (sumber daya) yang digunakan disebut...
Bagian 3. Essay / Uraian (5
soal)
1. Seorang siswa SMK ingin
membuka usaha keripik pisang dengan berbagai varian rasa. Analisislah rencana
produksi usaha tersebut menggunakan unsur 5M (Man, Money, Material, Machine,
Method) agar proses produksinya berjalan efektif dan efisien!
2. Sistem produksi Just-In-Time
(JIT) sering digunakan perusahaan besar untuk menekan biaya gudang. Evaluasilah
apakah sistem JIT ini cocok diterapkan untuk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
di Indonesia yang baru merintis? Berikan alasan dan risiko yang mungkin
dihadapi!
3. Di era industri 4.0, banyak
usaha mulai beralih menggunakan otomatisasi mesin. Analisislah dampak positif
dan negatif penggunaan teknologi otomatisasi terhadap aspek 'Man' (tenaga
kerja) dan aspek 'Cost' (biaya) dalam jangka panjang!
4. Sebagai seorang inovator,
rancanglah sebuah alur produksi yang menerapkan konsep 'Green Production'
(Produksi Ramah Lingkungan) untuk sebuah usaha konveksi pakaian. Jelaskan
langkah-langkah inovatif yang Anda ambil untuk meminimalkan limbah kain!
5. Mengapa kegiatan Quality
Control (QC) harus dilakukan di setiap tahapan produksi (awal, tengah, dan
akhir) dan bukan hanya di akhir proses saja? Jelaskan kaitannya dengan
efisiensi biaya dan kepuasan pelanggan!
|
Mengetahui, |
__________, __________ |
