Sabtu, 16 Maret 2024

PERAN KEPALA SEKOLAH SEBAGAI TOP MANAGEMEN DALAM “GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN” (Sharing Pengelolaan sekolah di SMK)

 

Oleh: Stefanus Satu, S.Pd*

Ulasan tentang gerakan sekolah menyenangkan ( GSM ) memang menyenangkan. Apalagi kalau pembahasnya merupakan orang internal sekolah dan menjadi pelaku langsung gerakan sekolah menyenangkan itu.

Kali ini saya hadir dengan tema yang sama yaitu Gerakan Sekolah Menyenangkan tapi dari sisi pelaku ( actor )  yang berbeda. Pada tulisan sebelumnya focus pembahasan pada peran guru dalam mewujudkan sekolah menyenangkan. Namun kali ini saya memberikan perimbangan ( balance ) terhadap apa yang mesti dibuat guru dan apa yang dibuat oleh managemen sekolah ( Kepala Sekolah ) dalam gerakan sekolah menyenangkan.

Saat ini memang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) umumnya dan SMK Pusat Keunggulan (SMK-PK) khususnya, bahkan tidak hanya SMK tetapi lembaga pendidikan dari tingkat TK/Paud sampai Perguruan tinggi  didorong oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (KemendikbudRistek) untuk menjadi SMK yang menyenangkan. Sekolah diasosiasikan atau diidentikkan dengan “rumah” yang setiap saat pemilik rumah menaburkan kasih dan saying antara satu dengan yang lain. Ada rasa damai, bangga, senang dan bahagia memiliki rumah ( sense of belonging ).

 Mewujudkan Idealisme Sekolah Menyenangkan memang membutuhkan sinerjitas semua sumber daya  dan stakeholder sekolah. Tanpa ada sinerjitas dari semua pemangku kepentingan sekolah, idealisme mewujudkan sekolah menyenangkan menjadi hampa dan nihil. Pada titik ini kemampuan manajerial seorang kepala sekolah menjadi garansi. Kemampuan manajerial seorang kepala sekolah untuk memadukan semua gagasan dan tindakan menuju satu titik pandang yaitu menjadi sekolah yang menyenangkan sangat dibutuhkan.

Pertanyaannya adalah dimanakah peran manajemen sekolah ( Kepala Sekolah dan Unsur Pimpinan lain )  yang dapat dimainkan dalam mewujudkan Sekolah Menyenangkan. Menurut saya peran yang dapat lakoni oleh manajemen sekolah adalah bagaimana melahirkan keputusan teknis yang dapat dikonritkan. Keputusan teknis ini tidak mesti seperti yang dilakoni oleh pihak pengambil keputusan ( decision maker ) pada pemerintahan. Tetapi sejauhmana keputusan  teknis itu dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi semua pemangku kepentingan sekolah secara khusus bagi peserta didik. Pemberian rasa manfaat yang tinggi bagi peserta didik akan menjadi pencitraan untuk sekolah bahawa “sekolahku adalah rumahku” dan “rumahku adalah rumah atau taman belajar”.

Beberapa keputusan teknis dan bahkan menjadi kegiatan sekolah dalam mewujudkan gerakan sekolah menyenangkan adalah sebagai berikut.

Pertama, melengkapi sarana sekolah dimana peserta didik memiliki akses di dalamnya. Sebagai contoh memperbanyak spot belajar penunjang perpustakaan sekolah adalah keputusan kecil tapi bermanfaat. Apalagi kalau sekolah memiliki lokasi yang sangat luas dan perpustakaan sekolah berada pada titik terjauh yang membuat sangat sulit bagi peserta didik untuk mendapatkan mafaat dari perpustakaan. Penyediaan spot-spot belajar seperti ini menjadi solusi bagi sekolah sekolah yang persediaan buku pembelajaran misalnya, belum memenuhi standar seperti yang diisyaratkan pemerintah yaitu satu buku untuk satu orang peserta didik. Disamping itu tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi membaca peserta didik. Membuka ruang-ruang penghubung antar gedung sekolah, melengkapi fasilitas pembelajaran  ruang teori, ruang praktek , membangun pagar lingkungan sekolah dengan pagar permanen adalah juga merupakan bagian dari upaya menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang menyenangkan.

Kedua, menawarkan kegiatan ekstrakurikuler yang semakin banyak kepada peserta didik, tentu juga dipandang sebagai upaya membuat siswa semakin merasa senang dan betah di sekolah. Kegiatan ekstra seperti olahraga ( bola sepak, bola volley, futsal, takraw, basket sangat baik untuk dilaksanakan di sekolah. Kegiatan ekstra pramuka, debat, majalah dinding, seni , melaksanakan kegiatan OSIS, selain untuk menumbuhkan rasa senang, bangga dan cinta akan  almamaternya, juga sebagai sarana pengembangan dan penguatan profil pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak mulia, Berkebinekaan Global, Bergotong Royong, Kreatif, Bernalar kritis, dan mandiri.

Ketiga, mengubah tampilan fisik gedung sekolah akan memunculkan kesan suasana baru. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan rehab gedung yang rusak, mengecat seng atap atau mengganti dengan yang baru, mengecat tembok ruang kelas atau ruang yang lainnya.

Keempat, mewujudkan sekolah hijau dan rindang. Labuan Bajo termasuk kota yang sangat panas. Udara yang panas akan berpengaruh terhadap konsentrasi pelaksanaan pembelajaran dalam ruangan kelas. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu diterapkan kebijakan lingkunagan sekolah yang hijau dan rindang. Sekolah yang hijau dan rindang adalah sekolah yang sejuk, udara sehat dan segar. Sekolah yang sejuk dan segar hanya dapat terwujud jika semua unsur akademika sekolah terlibat dan berpartiipasi aktif dalam mengupayakan sekolah hijau dan rindang. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanam dan memlihara pohon di dalam lingkungan sekolah, menanam bunga baik langsung di tanah maupun di pot ( dalam ruangan maupun di luar ruangan )

Kelima, mewujudkan sekolah sehat. Penilaian yang pertama yang diberikan orang ketika datang ke sekolah adalah soal kesehatan lingkungan sekolah. Sekolah yang sehat ditunjukkan oleh sekolah yang bersih. Sekolah yang bersih merefleksikan pribadi-pribadi dalam sekolah adalah orang yang memahami, berkesadaran  dan selalu berprilaku sehat. Untuk mewujutkan sekolah sehat  dibutuhkan kemampuan manajemen kepala sekolah untuk merencanakan, mengorganisir semua sember daya ( men, money dan materials )  dan melaksanakan program kerja yang terkait dengan upaya mewujudkan sekolah sehat. Melaksanakan bakti dan kebersihan bersama di lingkungan sekolah secara terjadwal, menyiapkan tempat-tempat sampah yang cukup. Mendorong semua pihak mulai kepala sekolah, guru, pegawai dan siswa untuk peduli dan inisiatif tinggi  untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah melalui memungut sampah dan tidak membuang sampah di sembarang tempat. Menyediakan fasilitas cuci tangan, menjaga dan mempertahankan kebersihan jamban siswa dan guru, melengkapi fasilitas Usaha Kesehatan Sekolah dan memperbanyak tulisan yang bersihat mengajak dan himbauan untuk menjaga kesehatan sekolah.

Keenam, sekolah bebas dari perundungan ( bulying ) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata perundungan adalah proses, cara, perbuatan merundung yang dapat diartikan sebagai seseorang yang menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah darinya. Biasanya dengan memaksanya untuk melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku dengan berbagai macam alasan, seperti supaya dianggap berkuasa, tidak memiliki perhatian dari orang sekitar, pernah jadi korban bulying, dll.

Bulying banyak terjadi di sekolah. Akibat dari adanya perundungan ini secara fisik bisa luka dan bahkan meninggal. Secara mental siswa korban  bulying bisa mengakibatkan minder, tidak peraya diri, suka menyendiri, spirit belajar rendah, stress dan  trauma.

Terhadap persoalan bulying ini sekolah perlu dan terus melakukan kampenye anti perundungan kepada siswa, membentuk kelompok siswa duta anti perundungan, menerapkan budaya senyum, sapa, salam ( 3 S ), menerapkan peraturan dan melakukan pengawasan secara ketat terhadap pelaksanaan peraturan kesiswaan serta meningkatkan pendampingan dan pembimbingan terhadap siswa.

Dengan mengasumsi sekolah menerapkan beberapa hal di atas, maka dapat dipercaya bahwa sekolah betul-betul terasa seperti rumah sendiri dengan suasan yang nyaman, bahagia, dan menyenangkan. Sekolahku adalah Rumahku.


PERAN GURU DALAM “GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN” (Refleksi Pembelajaran di SMK)

 

                                                Oleh: Stefanus Satu, S.Pd*

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) umumnya dan SMK Pusat Keunggulan (SMK-PK) khususnya, pada tahun 2021 ini didorong oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (KemendikbudRistek) untuk menjadi SMK yang menyenangkan. Idealisme KemendikbudRistek itu dikemas dalam satu program yang populer disebut  “Gerakan Sekolah Menyenangkan” (GSM). Pelaksanaan program itu berbasis pada konsep link and match antara proses pembelajaran teoretis di sekolah dengan realitas konkret.

Saya kira, kehadiran GSM ini memang sangat kontekstual sekarang mengingat ada begitu banyak  sekolah  yang masih sulit untuk mendapatkan peserta didik baru (PD) pada awal tahun ajaran, masih adanya tawuran PD dan masih sulit untuk dapat mendorong peningkatan  kualitas yang menjadi goal  sekolah. Citra sekolah yang menyenangkan tentu berimbas pada tingginya animo dan antusiasme siswa untuk melanjutkan pendidikan di sekolah tertentu.

GSM merupakan gerakan yang mengupayakan penumbuhan kesadaran akan sekolah sebagai institusi  yang tugas pokok dan fungsinya memberikan pelayanan pendidikan dan pembelajaran kepada peserta didik. Titik fokus perhatian adalah bagaimana peserta didik merasa senang atau bahagia berada di lingkungan sekolah.

Pertanyaan yang menggelitik untuk menjadi refleksi kita semua dalam upaya memahami GSM ini adalah siapa yang paling berperan dalam mengembangkan GSM ini? Bagaimana seharusnya peran yang dimainkan oleh ‘subyek sentral’ itu dalam menjabarkan ideal sekolah yang menyenangkan tersebut?

Salah satu pihak di internal sekolah yang turut berperan dalam upaya menciptakan sekolah sebagai satu institusi yang menyenangkan adalah guru. Guru diharapkan mampu untuk “mendandani” dirinya sendiri dengan berbagai kemampuan baik hardskill maupun softskill. Guru perlu memiliki suatu pemahaman bahwa merekalah pemilik sekolah yang wajib memberikan pelayanan prima kepada semua pemangku kepentingan sekolah. Kegagalan pelayan pendidikan dan pembelajaran baik secara individu maupun kelompok justru berdampak negatif terhadap pencitraan dan keberlanjutan sekolah yang bersangkutan.

Bagaimana guru seharusnya memainkan peran  dalam mewujudkan sekolah menyenangkan. Pertama,  guru merupakan figur yang dapat dijadikan contoh, digugu dan ditiru oleh peserta didiknya. Tentu, dalam hal ini menjadi contoh dan dapat ditiru untuk hal-hal yang baik.  Semboyan Ki Hajar Dewantara yang terkenal, yakni Ing Ngarso Sung Tulodho, di depan memberikan contoh, Ing Madya Mangun Karso, di tengah memberikan semangat dan Tut Wuri Handayani,  di belakang memberikan dorongan, menjadi pola dan pegangan bagi guru dalam seluruh aktivitasnya ketika berhadapan dengan peserta didik.

Dalam konteks disiplin, guru menjadi orang terdepan dalam mengajarkan disiplin melalui sikap dan perilaku yang dapat dijadikan contoh dan ditiru oleh peserta didik. Model pembelajaran dengan  mengedepankan banyak contoh yang dapat ditiru akan lebih mudah diikuti oleh peserta didik. Ketika guru memberikan contoh disiplin dengan datang lebih awal di sekolah, datang lebih awal di kelas dan tidak pulang sebelum waktunya untuk pulang, sebenarnya secara tidak langsung mengajarkan kepada peserta didik untuk dapat mengelola dan menghargai waktu. Karena siapa dapat mengelola waktu dengan baik, dijamin akan sukses dalam memperjuangkan asa dan cita-citanya.

Ketika guru memberikan contoh melalui  salam, senyum, sapa, santun dalam bertutur, berarti guru telah mengajarkan untuk saling menghargai sebagai sesama makluk sosial dan berbudaya. Ketika guru menampilkan cara berpakaian yang rapi dan sopan, maka sebeanrnya guru mengajarkan bagaimana mencintai dan menghargai diri kita sendiri.

Kemampuan guru dalam menampilkan hal-hal di atas di hadapan peserta didik akan memunculkan penilaian positip peserta didik terhadap pendidik  dan akan dijadikannya sebagai  tokoh model yang dibanggakannya. Semakin banyak tokoh model yang dibanggakan peserta didik di sekolahnya akan membuat peserta didik betah dan senang berada di sekolah karena selalu bertemu dengan guru yang dibanggakannya. Guru telah berhasil membuat sekolahnya menyenangkan bagi peserta didiknya.

Kedua, aspek pelayanan. Masih kuat dalam ingatan kita sebagai seorang guru akan ungkapan  ‘tamu adalah raja’ (guest is the king). Dalam nada yang sama, seorang guru mesti menganggap peserta didik sebagai raja yang mesti mendapat layanan prima (excellent service). Ungkapan ini menyegarkan memori kita akan tugas guru sebagai seorang pelayan. Tugas guru sebagai tuan rumah (host) yang baik adalah memberikan pelayanan yang prima kepada setiap stakeholder sekolah.

Peserta didik adalah tamu yang wajib mendapat pelayanan prima dari sekolah. Mendapat pelayanan pembelajaran dan pendidikan dari guru sebagai tuan rumah adalah “hak peserta didik” yang perlu dan wajib dipenuhi. Kurangnya pemahaman guru sebagai seorang pelayan, berdampak pada semakin seringnya guru terlambat sampai di sekolah, terlambat masuk di kelas, terlambat menyerahkan rapor, tidak memberikan kesempatan peserta didik menjawab dan bertanya, kurangnya memberikan konseling kepada peserta didik yang memiliki problematika secara akademis dan sosial.

Hal ini mengindikasikan pembelajaran tidak berpihak kepada peserta didik (student centre). Pembelajaran yang tidak berpihak pada peserta didik melahirkan peserta didik yang pasrah, menerima apa adanya, sulit berinovasi, kreatif dan mandiri bahkan pembelajran tersebut terasa membosankan dan membuat jenuh. Tentu saja, kondisi semacam ini berdampak pada penilaian yang tidak menyenangkan untuk guru dan sekolah.

Ketiga, penyajian materi yang hanya satu arah (monologis). Guru sebagai pengajar terkadang sulit melakukan evaluasi diri terhadap cara mengajar. Kesulitan dan kurangnya referensi metode mengajar guru, justru melahirkan cara mengajar yang hanya satu arah, textbook, catat buku sampai habis. Guru sangat dominan berperan aktif dalam pembelajaran. Ada kesan bahwa kita menerapap “cara belajar guru aktif, bukan cara belajar sisa aktif”. Cara ini sangat kontradiktif dengan Program Merdeka Belajar dengan Pembelajaran Paradigma baru, yaitu pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik, menggairahkan, menyenangkan, aktif, inovatif, kreatif dan mandiri.

Gerakan sekolah menyenangkan adalah wajah sekolah yang diperlihatkan melalui guru. Guru yang menjadi figur model dan kebanggaan, memberikan pelayanan yang prima serta mampu mengubah suasana pembelajaran menjadi suasana yang berpihak kepada peserta didik menjadi media reklame bagi sekolah. Media yang selalu menyuarakan keunggulan sekolah tersebut. Jika guru menerapkan secara optimal beberapa ‘kualitas diri’ di atas, maka sekolah benar-benar menjadi ‘rumah belajar’ yang menyenagkan bagi peserta didik.

*Penulis adalah Kepala SMKN 1 Labuan Bajo.




Jumat, 15 Maret 2024

CAPAIAN PEMBELAJARAN PROJEK KREATIF DAN KEWIRAUSAHAAN

 



 

Nama Sekolah                  : SMKN 1 Labuan Bajo

Mata Pelajaran                 : Projek Kreatif dan Kewirasahaan

Bidang Keahlian              : Semua Bidang Keahlian

Program Keahlian           :  Bisnis dan Manajemen

Konsentrasi Keahlian    :  AKL

A.        Capaian Pembelajaran

Pada akhir fase F peserta didik mampu mengaktualisasikan kompetensi-kompetensi konsentrasi keahlian yang dipelajarinya dengan menghasilkan produk (barang dan/atau layanan jasa) yang sesuai, inovatif, memiliki nilai ekonomis dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Di sisi lain, peserta didik juga akan mampu membangun usaha (berwirausaha) yang berkelanjutan dengan memanfaatkan peluang yang tersedia, baik usaha yang terkait dengan keahlian kejuruannya maupun usaha-usaha lainnya yang lebih sesuai dengan perkembangan pasar.

B.        Elemen Pembelajaran

Elemen

Deskripsi

Kegiatan Produksi

Meliputi produksi dalam bentuk barang dan/atau layanan jasa meliputi perencanaan produk, pembuatan produk, pengemasan produk, serta distribusi dan layanan purna jual.

Kewirausahaan

Meliputi prediksi peluang usaha, rencana usaha (business plan), pemasaran produk, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), dan laporan keuangan.

 C.   Capaian Pembelajaran Per Elemen

Elemen

Capaian Pembelajaran

Kegiatan Produksi

Pada akhir fase F:

1.      Peserta didik mampu mengidentifikasi sikap dan perilaku yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan berwirausaha

 

2.      Peserta didik mampu menyusun rencana produksi meliputi menetapkan jenis dan jumlah produk, menetapkan desain/rancangan produk, menyusun proses kerja pembuatan prototipe/ contoh produk, dan menghitung biaya produksi.

 

3.      Peserta didik mampu membuat produk mulai dari menyusun rencana dan jadwal kerja, menetapkan strategi produksi, menetapkan kriteria standar/spesifikasi produk, melaksanakan kegiatan produksi, pengendalian mutu produk (quality assurance).

 

4.      Peserta didik mampu membuat desain kemasan, melaksanakan pengemasan produk, membuat labelling.

 

5.      Peserta didik mampu menentukan strategi distribusi dan memberikan layanan terhadap keluhan pelanggan.

Kewirausahaan

Pada akhir fase F:

 

1.      Peserta didik mampu membaca peluang usaha dengan mengidentifikasi potensi yang ada di lingkungan internal dan eksternal SMK, serta menetapkan jenis usaha.

 

2.      Peserta didik mampu menyusun proposal usaha (business plan) yang meliputi perencanaan usaha, biaya produksi, break even point (BEP), dan return on investment (ROI).

 

3.      Peserta didik mampu memasarkan produk dengan menentukan segmen pasar, menentukan harga produk, dan menentukan media yang digunakan untuk memasarkan produk.

 

4.      Peserta didik mampu menerapkan prinsip Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), menjelaskan konsep HAKI, dan mematuhi peraturan tentang HAKI.

 

5.       Pada akhir fase F, peserta didik mampu menyusun laporan keuangan berupa laporan neraca, laporan labarugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas.


GALERY GAMBAR

 

























































































MODUL AJAR

 


                                                

    I.      INFORMASI UMUM

A.      IDENTITAS  MODUL

Nama Penyusun

Stefanus Satu, S.Pd

Sekolah

SMK Negeri 1 Labuan Bajo

Program / Konsentrasi Keahlian

 Akuntansi dan Keuangan Lembaga

Fase / Kelas / Semester

F / Kelas XII / Semester VI

Mata Pelajaran

Projek Kreatif dan Kewirausahaan  ( PKK )

Jumlah Pertemuan         

1  x Pertemuan  = 5  JP 

Alokasi Waktu  

 1 JP = 45 menit 

Elemen

Kewirausahaan

Capaian Pembelajaran ( CP )

Pada akhir fase F peserta didik mampu membaca peluang usaha dengan mengidentifikasi potensi yang ada di lingkungan internal dan eksternal SMK, serta menetapkan jenis usaha. Peserta didik mampu menyusun proposal usaha (business plan) yang meliputi perencanaan usaha, biaya produksi, break even point (BEP), dan return on investment (ROI). Peserta didik mampu memasarkan produk dengan menentukan segmen pasar, menentukan harga produk, dan menentukan media yang digunakan untuk memasarkan produk. Peserta didik mampu menerapkan prinsip Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), menjelaskan konsep HAKI, dan mematuhi peraturan tentang HAKI. Pada akhir fase F, peserta didik mampu menyusun laporan keuangan berupa laporan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas.

 

Topik Materi Pembelajaran

MENYUSUN LAPORAN KEUANGAN

Tahun Pelajaran

2023/2024















B.    KOMPETENSI AWAL

  1. Siswa sudah mampu melakukan posting  Akun dari JURNAL  ke Akun yang sesuai di BUKU BESAR
  1. Siswa sudah mampu Menyusun Neraca Saldo
  1. Siswa sudah mampu melakukan Jurnal Penyesuaian ( Adjustment )
  1. Siswa sudah mampu mengerjakan Neraca Lajur / Kertas Kerja ( Workshit

C. PROFIL PELAJAR PANCASILA

  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia,   
  1. Bernalar Kritis
  1. Mandiri
  1. Gotong Royong
  1. Berkebhinekaan Global

D.     SARANA DAN PRASARANA

1.    Ruang kelas dilengkapi dengan proyektor, papan tulis, dan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik.

2.    Komputer dan akses internet untuk mencari informasi terkait perencanaan produk

E. TARGET PESERTA DIDIK

       Peserta didik reguler/tipikal: umum

 

F.  MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

  1. Model Pembelajaran adalah Problem Based Learning
  1. Methode Pembelajaran : Ceramah,  Diskusi  Kelompok,  Latihan Mengerjakan soal, Tanya Jawab


II. KOMPONEN INTI


A.   TUJUAN PEMBELAJARAN ( TP )

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran  (KKTP)

1.    Peserta  dapat memahami pengertian Laporan Keuangan

Pengertian Laporan Keuangan terdefinesi dengan baik

2.    Peserta didik dapat memahami jenis-jenis Laporan Keuangan

Jenis-jenis Laporan Keuangan  dapat diketahui dengan benar

3.    Peserta  didik mengetahui sumber informasi / data untuk mengerjakan Laporan Keuangan

Sumber informasi pengerjaan Laporan Keuangan dipahami dengan jelas

4.    Peserta didik dapat membuat format  masing-masing Laporan Keuangan

Format Laporan Keuangan dapat Digambar atau dibuat dengan benar

5.    Peserta didik dapat menerapkan prosedur pembuatan Laporan Keuangan

Prosedur pengerjaan Laporan Keuangan dapat diterapkan dengan benar

6.    Peserta Didik dapat membuat Laporan Keuangan

Laporan Keuangan dapat dibuat dengan benar

 

 

B. PEMAHAMAN BERMAKNA

Output proses pengerjaan Akuntansi adalah Laporan Keuangan. Laporan Keuangan menunjukkan Laporan posisi keuangan dan kinerja operasional Perusahaan selama satu periode akuntansi

 

C.   PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Dapatkah anak-anak menyebutkan jenis-jenis Laporan Keuangan
  1. Jelaskan sumber informasi untuk dapat Menyusun Laporan Keuangan
  1. Siapakah pihak-pihak yang membutuhkan Laporan Keuangan

 


D. KEGIATAN PEMBELAJARAN

PERTEMUAN KE …….

1.       Kegiatan Pendahuluan

a.             Salam

Salam, Doa, Absensi, Cek kesiapan dan kerapian siswa, cek ruangan dan kelengkapan pembelajaran

b.          Membuat Kesepakatan

  1. Mengikuti pembelajaran dengan tertib
  2. HP dibuat Mode Silent dan digunakan jika diperintah
  3. Jika ingin ke toilet harus ijin
  4. Aktif selama proses pembelajaran ( tanya dan jawab  )
  5. Siswa yang terlambat, kedapatan  tidur dan buat onar diberi sanksi

c.Komonikasi Tujuan Pembelajaran

Guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang akan disajikan dan Capaian Pembelajaran yang diharapkan diketahui dan dimiliki peserta didik.


2.  Kegiatan Inti

  1.  Informasi Tujuan Pembelajaran

Guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang akan disajikan dan Capaian Pembelajaran yang diharapkan diketahui dan dimiliki peserta didik.

  1. Brainstorming ( Curah Pendapat atau pengalaman

Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik atau mereview  topik pembelajaran sebelumnya

  1. Bentuk Kelompok

Guru memfasilitasi pengelompokan peserta didik ke dalam 5 kelompok. Siswa yang dinilai mampu berdasarkan asesmen sebelumnya didistribusikan ke setiap kelompok

  1. Explore

Guru membantu peserta didik mengexplore di Internet tentang Laporan Keuangan. Ketik kata kunci “Laporan Keuangan Akuntansi “ pada kotak Brosing google. Contoh  https://mekari.com/blog/laporan-keuangan-perusahaan-jasa/

https://accurate.id/akuntansi/contoh-laporan-keuangan-perusahaan-jasa/

https://repositori.kemdikbud.go.id/12090/1/akuntansi%20perusahaan.pdf

  1. Diskusi

Setelah peserta didik melakukan explore materi, Guru memandu diskusi peserta didik   dengan mengajukan beberapa pertanyaan penuntun:

  1. Ada berapa jenis Laporan keuangan yang harus dibuat Perusahaan jasa
  2. Jelaskan urutan prosedur pembuatan Laporan Keuangan. Mengapa demikian
  3. Jelaskan jenis-jenis akun yang ada pada masing-masing jenis Laporan Keuangan
  1. Presentasi

Peserta didik melakukan presentasi hasil diskusi kelompok dihadapan teman kelompok lain.

  1. Bimbingan

Guru bertindak sebagai pembimbing yang menuntun diskusi dan presentasi berjalan aman dan tidak mebias di luar topik bahasan

  1. Penguatan Materi

Setelah semua kelompok melakukan presentasi materi hasil diskusi, guru memberikan penguatan tentang materi yang dibahas dan diskusikan oleh peserta didik yaitu Pengertian Laporan Keuangan, Jenis Laporan Keuangan, Sumber informasi pembuatan Laporan Keuangan, bentuk format Laporan Keuangan, urutan prosedur pembuatan Laporan Keuangan dan contoh pembuatan Laporan keuangan


3. Kegiatan Penutup

  1. Apresiasi

Guru memberikan apresiasi kepada seluruh peserta didik atas kehadiran, keaktifan selama proses pembelajaran dan ketaatan atas kesepakatan yang telah dibuat

  1. Tugas Rumah

Guru memberikan tugas kepada peserta didk terkait materi yang telah dibahas untuk dikerjakan di rumah baik secara individu maupun kelompok

  1. Topik Bahasan berikut

Guru menginformasikan topik bahasan pada pertemuan berikutnya untuk dapat dipelajari peserta didik

  1. Refleksi Siswa

1.   Bagaimana perasaanmu setelah menerima topik bahasan ini?

2.   Apakah menurutmu topik bahasan ini penting?

3.   Selain diterima di sekolah, bagaimana usahamu di luar sekolah memperdalam pemahaman tentang Laporan Keuangan

4.   Apakah siswa termotivasi untuk terus belajar  Akuntansi?

  1. Refleksi Guru

1.   Bagaimana menurut anda tentang cara penyajian materi ini oleh guru / Instruktur

2.   Apakah menurut siswa , guru / Instruktur  sangat menguasai materi bahasan ini?

  1. Motivasi

Guru memberikan motivasi kepada peserta didik dan harapan-haran sukses masa depan melalui P5

  1. Doa dan Salam

Guru meminta siswa Piket untuk pimpin doa dan salam penutup

 

 

III. ASESMEN

Item

Uraian

A.         Judul

Menyusun Laporan Keuangan

B.         Tujuan

Menilai kemampuan peserta didik  dan mengetahui Tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran

C.         Jenis

Asesmen Diagostik ( Non Pengetahuan dan Pengetahuan )

Asesmen Formatif ( Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan

Asesmen Sumatif

D.         Teknik

Observasi, Test Tertulis, dan Portofolio


Soal Asesmen Tertulis ( Asesmen Pengetahuan )

Tulislah :

Nama                    : …………………………….

Kelas                     : …………………………….

Instruksi               : Jawablah dengan benar

Soal                       :

1.       Jelaskan pengertian Laporan Keuangan, fungsi dan tujuannya

2.       Siapa sajakah yang sangat berkepentingan dengan Laporan Keuangan yang dibuat Perusahaan

3.       Jelaskan jenis-jenis Laporan Keuangan

4.       Data apakah yang perlu disiapkan agar dapat Menyusun Laporan Keuangan

5.       Laporan yang menggambarkan posisi Harta, Utang dan Modal Perusahaan adalah ……………..

6.       Laporan yang menggambarkan Perusahaan mengalami Keuntungan atau Rugi adalah …………………..

Asesmen Keterampilan ( Porto Folio )   

Tulislah :

Nama                    : ………………………….

Kelas                     : ………………………….

Instruksi               : Buatlah Laporan Keuangan Perusahaan seperti pada soal berikut.

Soal                        :

Diketahui Neraca Saldo Perusahaan Jasa “ Bengkel Raja Jaya” milik Paul Sanjaya sebagai berikut.

No Akun

Akun/Perkiraan

Debet ( Rp )

Kredit ( Rp )

111

Kas

6.610.000

 

112

Piutang Usaha

21.900.000

 

113

Bahan Habis Pakai

1.820.000

 

121

Peralatan

37.860.000

 

211

Utang Usaha

 

3.050.000

212

Pendapatan Diterima Dimuka

 

4.800.000

311

Modal Paul Sanjaya

 

55.700.000

312

Prive Paul Sanjaya

2.500.000

 

411

Pendapatan Bengkel

 

71.450.000

511

Beban Gaji

38.210.000

 

512

Beban Sewa

13.790.000

 

513

Beban Listrik dan Air

10.050.000

 

514

Beban Lain-lain

2.260.000

 

 

Jumlah

 

 

IV. RUBRIK

A.         Penilaian Sikap

Aspek Penilaian

Skala Penilaian

1

2

3

Kerja Sama

 

 

 

Partisipasi

 

 

 

Disiplin

 

 

 

         
  Keterangan: 1. Rendah           2. Cukup                 3. Baik

A.         Penilaian Pengetahuan

Aspek Penilaian

Skala Penilaian

1

2

3

4

Pemahaman Konsep

 

 

 

 

Penggunaan Data

 

 

 

 

Pemahaman Prosedur

 

 

 

 

   Keterangan : 1.  Kurang           2.  Cukup              3. Baik                      4. Baik Sekali

A.         Penilaian Keterampilan ( Porto folio / Menyusun Laporan Keuangan )

Aspek Penilaian

Skala Penilaian

1

2

Keterangan

Laporan Memiliki Judul

 

 

 

Posisi Akun sesuai Saldo Normal

 

 

 

Laporan Balance Debet dan Kredit

 

 

 

     Keterangan        : 1.  YA                  2. TIDAK

IV. RENCANA TINDAK LANJUT ( RTL )

Kegiatan

Keterangan

Pengayaan

Peserta didik yang telah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik akan diberikan tugas tambahan yang lebih menantang untuk memperluas pemahaman mereka tentang Laporan Keuangan

Remedial

Peserta didik yang memerlukan bantuan tambahan akan diberikan waktu tambahan untuk memperbaiki pemahaman dan keterampilan mereka dalam Menyusun Laporan Keuangan

Komunikasi  Guru dan Orang Tua Peserta Didik

Dilakukan pertemuan antara orang tua murid dan guru untuk membahas perkembangan peserta didik dalam Menyusun Laporan Keuangan  serta memberikan rekomendasi atau dukungan yang diperlukan


Lembar Kerja Peserta Didik ( LKPD )

 

Nama                    : ……………………………….

Kelas                      : ……………………………….

Hari/Tanggal      : ……………………………….

Judul                     : Menyusun Laporan Keuangan

Tujuan                  : Siswa dapat menyusun Laporan Keuangan ( Laba/Rugi, Perubahan Modal dan

                                Neraca Akhir

Instruksi               : Buatlah Laporan Keuangan Perusahaan seperti pada soal berikut.

Soal                        :Diketahui Neraca Saldo Perusahaan Jasa “ Mutiara Kasih ” milik Kekasi seba gai berikut.

No Akun

Akun/Perkiraan

Debet ( Rp )

Kredit ( Rp )

111

Kas

6.610.000

 

112

Piutang Usaha

21.900.000

 

113

Bahan Habis Pakai

1.820.000

 

121

Peralatan

37.860.000

 

211

Utang Usaha

 

3.050.000

212

Pendapatan Diterima Dimuka

 

4.800.000

311

Modal Paul Sanjaya

 

55.700.000

312

Prive Paul Sanjaya

2.500.000

 

411

Pendapatan Bengkel

 

71.450.000

511

Beban Gaji

38.210.000

 

512

Beban Sewa

13.790.000

 

513

Beban Listrik dan Air

10.050.000

 

514

Beban Lain-lain

2.260.000

 

 

Jumlah

 

 

 LKPD: 1

……………………………………….

……………………………………….

……………………………………….

No Akun

Akun/Perkiraan

Debet ( Rp )

Kredit ( Rp )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LKPD: 2

……………………………………….

……………………………………….

……………………………………….

No Akun

Akun/Perkiraan

Debet ( Rp )

Kredit ( Rp )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LKPD: 3

……………………………………….

……………………………………….

……………………………………….

No Akun

Akun/Perkiraan

Debet ( Rp )

Kredit ( Rp )