SMKN 1 Labuan Bajo tidak pernah tidur. Dari gerbangnya terlihat kapal-kapal Phinisi yang parkir di Pelabuhan. Di kelas XI Akuntansi 2, ada dua anak yang selalu duduk berdekatan. Yosep dari Desa Wae Lolos dan Nirma dari Desa Golo Bilas. Keduanya anak kos di Wae Mata, datang ke Labuan Bajo dengan satu janji kepada orang tua: "Sekolah baik-baik, jadi orang akuntansi hotel, kerja di pariwisata."
Yosep pintar di MYOB dan Excel. Nirma teliti,
buku kasnya paling rapi seangkatan. Wali kelas mereka, Bu Leni, sering bilang,
"Kalian berdua adalah contoh bagaimana anak kampung bisa kalahkan anak
kota. Labuan Bajo ini Kota Pariwisata Super Prioritas, peluang kalian luas
sekali."
Setiap pagi mereka jalan kaki dari kos melewati jalanan yang sudah ramai bule. Cita-cita mereka sederhana: lulus, dapat sertifikat kompetensi, magang di hotel bintang lima di Waecicu.
Awalnya hanya nongkrong sepulang sekolah di sebuah kafe dekat Pantai Pede dengan kakak-kakak kelas yang sudah tidak sekolah. Mereka dikenalkan pada dunia malam Labuan Bajo - musik keras, minuman, dan cerita-cerita tentang "bebas" dan "dewasa".
"Katanya anak akuntansi kuper," kata salah satu kakak kelas itu sambil tertawa. "Sekali-kali jadi anak gaul Labuan Bajo lah." Yosep yang tadinya malu-malu mulai merasa keren. Nirma yang tadinya pendiam, merasa diperhatikan dan disayang. Mereka mulai bolos pelajaran produktif. Tugas jurnal umum menumpuk. Bu Leni menegur, tapi mereka beralasan magang dan cari relasi pariwisata.
Di kota yang semua orang terlihat bahagia dan bebas, batas antara pergaulan dan pergaulan yang salah menjadi kabur. Mereka berdua semakin dekat, bukan sebagai teman belajar lagi, tapi saling mengisi kekosongan dan mencari pelarian. Tanpa bekal pengetahuan dan tanpa keberanian berkata "tidak", mereka terjerumus ke dalam hubungan seks bebas yang mereka kira adalah bukti cinta dan kedewasaan.
Tiga bulan sebelum Uji Kompetensi Keahlian (UKK), Nirma pingsan saat apel pagi di lapangan SMKN 1 Labuan Bajo. Di UKS, ia menangis tak henti. Hasil testpack itu dua garis. Dunia Yosep dan Nirma runtuh seketika. Rasa takut menggantikan rasa keren. Mereka sembunyi. Mereka tidak masuk sekolah seminggu. Grup WA kelas ribut.
Bu Leni datang ke kos mereka bersama guru BK.
Tidak ada amarah, hanya air mata. "Ibu sudah lihat banyak anak pintar
hancur bukan karena bodoh, tapi karena salah memilih teman dan salah
mengartikan kasih sayang," kata Bu Leni.
Nirma harus menghadapi kenyataan pahit: ia hamil. Yosep yang baru 17 tahun, panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Orang tua mereka dari kampung dipanggil ke sekolah. Tangis mama Nirma pecah di ruang BK.
Aturan sekolah tegas. Keputusan pahit harus diambil. Nirma harus mengundurkan diri untuk menjaga kandungannya. Yosep, karena tekanan mental dan malu, nilainya anjlok dan tidak lulus UKK. Ia tidak ikut acara Bina Akrab bersama teman-temannya . Sementara itu, teman-teman sekelas mereka, Rian, Sinta, dan yang lain, lulus dengan sertifikat. Mereka magang di Ayana, di Meruorah, di hotel-hotel tempat Yosep dan Nirma dulu bermimpi bekerja. Kapal-kapal Phinisi tetap berlayar di depan sekolah, tapi tidak lagi membawa mimpi mereka.
Yosep kembali ke Wae Lolos membantu bapaknya
di kebun. Nirma tinggal di kampung, membesarkan anaknya dengan bantuan keluarga.
Labuan Bajo terus melaju menjadi kota super prioritas, tapi mereka berdua
tertinggal di halte yang salah.
Bukan karena mereka bodoh. Nilai mereka dulu 80 ke atas. Mereka gagal karena satu hal: salah pergaulan.
Sore itu, setahun kemudian, Bu Leni meminta
Yosep dan Nirma datang kembali ke SMKN 1 Labuan Bajo. Bukan untuk dihakimi,
tapi untuk bercerita di depan adik-adik kelas X Akuntansi yang baru masuk dari
desa-desa. Dengan suara bergetar, Nirma berkata:
"Jangan kira bebas itu hebat. Di Labuan Bajo ini, godaan itu banyak karena semua terlihat indah. Kalau kalian dari kampung seperti kami, ingat janji kalian pada orang tua. Pilih teman yang ingatkan kalian pulang, bukan yang ajak kalian hilang. Cinta itu bukan tentang hari ini, tapi tentang masa depan yang mau kalian bangun. Satu kesalahan bisa hapus seribu cita-cita." Yosep menambahkan, "Saya pikir saya jago, saya gaul. Ternyata saya pengecut yang tidak berani bilang tidak. Gagal UKK itu tidak seberapa, tapi gagal jadi orang yang bertanggung jawab itu yang paling sakit."
Motivasi bukanlah kata-kata manis di dinding
kelas. Motivasi adalah kemampuan untuk berkata "tidak" pada hal yang
merusak, dan "ya" pada masa depan.
Kisah Yosep dan Nirma bukan akhir. Mereka
masih muda. Mereka masih bisa bangkit dengan jalur yang berbeda, lewat Paket C,
lewat kerja keras. Tapi mereka ingin satu hal: jangan ada lagi Yosep dan Nirma
lain di gerbang SMKN 1 Labuan Bajo.
Karena di kota pariwisata yang super prioritas ini, yang
paling mahal bukanlah hotel bintang lima, melainkan masa depan yang kamu jual
murah karena salah pergaulan.
SEKIAN.
Disklaimer: Nama dan tempat dalam cerita di atas
adalah fiktif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar